Bendera Amerika Serikat. Foto: Antara


KBR, Jakarta- Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) masih menghitung untung-rugi Indonesia mengikuti Perjanjian Perdagangan Pasifik (TPP) menyusul Pemilu Amerika Serikat (AS) yang digelar 8 November ini. Dalam Pemilu AS, calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton mendukung TPP sementara Donald Trump menolak. 


Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani, menyatakan saat ini Perjanjian Perdagangan Pasifik TPP masih terlalu dini. Sebab, perjanjian tersebut memiliki kerangka yang begitu luas.

"Memang tantangannya tidak mudah. Apalagi kalau nanti terjadi perubahan kebijakan di Amerika karena pergantian presiden," ungkapnya kepada KBR, Selasa (8/11/2016) malam.

Ketua Umum APINDO Hariyadi Sukamdani menambahkan, Hillary Clinton dikenal kurang setuju dengan TPP meski satu partai dengan Obama. Sementara Donald Trump menolaknya karena fokus pada ekonomi di dalam negeri.

"Ini tantangan juga. Apakah masih mempunyai semangat yang sama?" paparnya lagi.

Saat ini yang diuntungkan dari TPP baru eksportir saja. Sementara untuk usaha domestik belum terlihat. TPP adalah perjanjian perdagangan bebas 12 negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Brunei Darussalam, Peru, dan Australia.

TPP adalah perjanjian perdagangan bebas 12 negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Brunei Darussalam, Peru, dan Australia.

Baca juga: 'Dicerai' Filipina, Amerika Kebingungan


Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!