Pemerintah Cek Info Penculikan Nelayan Indonesia di Perairan Malaysia

Juru bicara militer Filpina gerombolan pria bersenjata dan bertopeng kembali menculik dua nelayan Indonesia di perairan Malaysia Timur, Sabtu, 19 November 2016.

Minggu, 20 Nov 2016 17:33 WIB

Ilustrasi. Foto: Antara

KBR, Jakarta- Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) belum mendapatkan informasi detail soal penculikan dua nelayan Indonesia di perairan Malaysia. Menurut juru bicara Kemenlu, Armanatha Natsir, pihaknya masih mencari lokasi dan pelaku penculikan.

"Pemerintah mendapatkan informasi semalam, dan saat ini sedang dilakukan konsulat kita yang ada di Tawau, dan kita mencari informasi lebih lanjut, mengenai persisnya di mana kejadian di mana,"ungkapnya kepada KBR, Minggu (20/11/2016)

Sebelumnya diberitakan juru bicara militer Filpina, Mayor Filemon Tan, gerombolan pria bersenjata dan bertopeng kembali menculik dua nelayan Indonesia di perairan Malaysia Timur, Sabtu, 19 November 2016. Komplotan penjahat itu sempat dikejar oleh aparat Filipina saat berlayar menuju Filipina Selatan.

Lima pria itu menculik dua nelayan dari zona penangkapan ikan lepas pantai Sabah. Menurut situs berita Suara Sabah, kapal nelayan didatangi kumpulan orang bersenjata sebelum kemudian bergerak ke arah perairan Felda Dahabat. Pengurus Persatuan Nelayan Semporna, Salleh Abdul Salleh, mengatakan peristiwa itu terjadi di perairan Merabung, Lahad Datu.

Akibat banyaknya penculikan dan penyanderaan anak buah kapal asal Indonesia, Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi sempat mendatangi MMenteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Anifah Amman dan Gubernur Jenderal Sabah serta Panglima Komando Malaysia Timur Senin, 7 November 2016.

Dalam laman resmi Kemlu.go.id, Retno meminta perhatian khusus pihak Malaysia terhadap keamanan sekitar 6.000 WNI yang bekerja secara legal di kapal-kapal penangkap ikan Malaysia di sekitar perairan Sabah.

Retno juga menyampaikan kepada Menlu Malaysia bahwa pasca implementasi Perjanjian Trilateral, tidak ada lagi penculikan atau penyanderaan WNI di Perairan Sulu. Namun sejak Juli 2016,  lokasi penyanderaan bergeser ke perairan Malaysia dekat perbatasan dengan Filipina yang lokasinya berada di luar koridor yang telah disepakati.

Menlu Retno mendesak pemerintah Malaysia untuk meningkatkan pengamanan di perairannya untuk mencegah terulangnya insiden serupa.


Editor: Sasmito 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Kepala KSP Moeldoko Tepis Anggapan Miring

  • Izin Impor Beras Dialihkan, PT PPI Tak Keberatan
  • BNPB Siapkan Anggaran Rp 166 Miliar untuk Perbaiki Rumah Korban Banjir Bima
  • PS TNI Gagal Menang Melawan 10 Pemain Persebaya

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.