Pasal Penistaan Agama, HRWG: Multi Tafsir dan Bisa Menyasar Siapa Saja

"Pertanyaannya kemudian siapa yang menentukan agama mainstream itu benar atau salah? titik karet dan multitafsirnya di situ."

Selasa, 01 Nov 2016 20:02 WIB

Gubernur Ahok saat mendatangi Bareskrim untuk memberikan klarifikasi terkait ucapannya yang dianggap menghina agama. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Penggunaan pasal penistaan agama bisa menyasar siapa saja. Kata Direktur Eksekutif Human Rights Working Group (HRWG)  Muhammad Hafiz   Aturan yang kerap dipakai   adalah UU No. 1/PNPS/1965 dan pasal 156a  Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Kata Hafiz  pendapat ahli mengenai pasal itu sangatlah multitafsir dan bersifat karet. Karena itu   bisa digunakan untuk menyasar siapapun yang dianggap menyimpang dari ajaran atau agama-agama.

"Pertanyaannya kemudian siapa yang menentukan agama mainstream itu benar atau salah? titik karet dan multitafsirnya di situ. Seandainya saja si A anggap pemahaman si B keliru, ternyata si A dari kelompok mainstram dan mayoritas, maka sangat mungkin dia menjadi tafsir yang digunakan. Jadi sangat multitafsir dan prakteknya yang kita temukan terkait politik identitas antarkelompok," papar Hafiz kepada KBR, Selasa (1/11/2016).

Menurut Hafiz, dalam kasus Ahok, kepolisian harus menggunakan tafsir yang kredibel. 

"Yang harus selalu dipegang oleh aparat penegak hukum atau negara secara umum bahwa setiap orang punya klaim kebenaran atas apa yang dia yakini. Dan klaim itu meniscayakan adanya banyak tafsir, adanya banyak pendapat dan negara tidak boleh mengikuti satu pendapat atau satu tafsir saja.   Jadi intinya kalaupun memang harus ditinjau kembali, dilanjutkan, kepolisian harus betul-betul mendengarkan penafsiran-penafsiran yang kredibel terhadap ayat tersebut," ujarnya.

Hafiz  menambahkan, aprat harus memperhatikan Mens Rea atau intensi atau niat. Kata dia hal ini  sering dilupakan aparat penegak hukum.

Kata Hafiz, dalam pasal 156a terdiri dari dua poin yang menegaskan niat pelaku. Inilah yang menurut dia harus dibuktikan. Niat ini membedakan apakah satu ungkapan itu masuk dalam kategori siar kebencian yang disengaja untuk menghujat suatu agama tertentu atau tidak.

Sebelumnya Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias ahok diadukan ke polisi. Ahok diadukan oleh sejumlah kelompok lantaran mengucapkan ‚ÄúDibohongin pakai surat Al Maidah 51"  dianggap menghina agama Islam. Ahok telah meminta maaf terkait ucapannya di kepulauan seribu itu.  


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Fadli Zon Janji Tak Akan Ada Pengambilan Keputusan Sepihak Untuk Perppu Ormas

  • Cuaca Buruk, Pendapatan Nelayan Cilacap Merosot Tajam
  • Milan dan Venice Gelar Referendum untuk Pisah dari Italia
  • Selamatkan Empat Nyawa, Francis Kone Raih Penghargaan Fair Play Award