Parade Bhineka Tunggal Ika, Gus Nuril: Bukan Menandingi 411

"Kita sudah sepakat, ulama tahun 36 sudah sepakat dirikan NKRI. Kalau kemudian diubah dasarnya, ini diuji oleh paham baru yg bernama khalifahan."

Kamis, 17 Nov 2016 14:13 WIB

Nuril Arifin, pemimpin pondok pesantren Soko Tunggal Abdurahman Wahid. (Foto: KBR/Eli Kamilah)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Parade Bhineka Tunggal Ika yang akan digelar Sabtu, 19 November 2016 besok bukan merupakan unjuk rasa tandingan 4 November lalu. Parade ini menurut Tokoh Nahdlatul Ulama  Nuril Arifin atau Gus Nuril, merupakan aksi damai. Kata dia kegiatan itu bukan unjuk rasa  tapi karnaval kesenian yang menyuarakan kesatuan NKRI.

Gus Nuril menyatakan keikutsertaannya dalam parade untuk mendukung dan memunculkan kembali bahwa Indonesia adalah satu, dan beragam. Bukan Indonesia Arab ataupun Indonesia Eropa.

"Indonesia adalah Indonesia. Kita sudah sepakat, ulama tahun 36 sudah sepakat dirikan NKRI. Kalau kemudian diubah dasarnya, ini diuji oleh paham baru yg bernama khalifahan. Kalau ini diubah agama banyak tuntutan," ujarnya di Bakoel Coffe Jakarta, Kamis (17/11/2016)

"Indonesia bukan Arab Indonesia bukan Eropa. Indonesia adalah Indonesia," ujarnya lagi.

Gus Nuril mengucapkan  terima kasih aksi unjuk rasa 411 kemarin berlangsung. Pasalnya, kata dia hal itu membangkitkan kembali keinginan untuk menyuarakan kebhinekaan Indonesia. Salah satunya lewat parade bhineka tunggal ika

"Kita terima kasih kepada 411 itu karena membangkitkan keindonesiaan kita. Hubungannya dengan 411? Ada! Kata siapa ngga ada. Unjuk rasa kemarin Ini membangkitkan kesatria nusantara," ungkapnya.

Hal senada juga diutarakan tokoh agama lainnya, Pendeta Amos Sugianto. Kata dia, parade akan menampilkan suara-suara Indonesia, tidak ada orasi atau tuntutan apapun.

"Besok itu nuansa lagu nasional, daerah kita dengungkan. Tidak ada orasi. Kita gaungkan kembali Indonesia," ujarnya.

Dirinya juga memastikan akan menindaklanjuti parade besok dengan rumah bangsa. Rumah ini merupakan kegiatan penyuluhan kebhinekaan di Indonesia.

"Kita akan follow up dengan rumah bangsa dan mengekspresikan bhineka tunggal ika. Kamilah yang bertanggungjawab untuk mengekspresikan itu. Pancasila masih ada. Kami ada program penyuluhan soal bhinela tunggal ika, jadi kami kembangkan lagi," katanya.

Parade Bhineka Tunggal Ika direncanakan diikuti 100 ribu orang dari berbagai elemen masyarakat dari Jakarta dan Banten. Akhir pekan ini, massa akan berkumpul di patung kuda Jakarta dan bergerak ke Bundaran Hotel Indonesia.

Parade akan menampilkan kesenian Indonesia semisal Reog Ponorogo, Barongsai, Dewi Kanti, dan Tarian dari NTT.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Siapkan Dua Opsi soal Polemik PJ Gubernur Polri

  • Bekas Pimpinan KPK: Kasus Novel Tak Tuntas Bisa Jadi Catatan Buruk Jokowi untuk 2019
  • Longsor Terjang Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah, 4 Tewas 6 Luka Parah
  • Sanksi Baru Amerika Untuk Korut

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.