Presiden Joko Widodo beri gelar pahlawan nasional bagi Tokoh NU Raden As'ad Syamsul Arifin. (Sumber: NU)


KBR, Jakarta- Pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada Raden As'ad Syamsul Arifin tokoh Nahdlatul Ulama dari Jawa Timur. Sekretaris Militer Presiden (Sesmilpres), Trisno Hendradi mengatakan, Raden As'ad Syamsul Arifin dianggap berjasa kepada negara dan bangsa. 

Kata Trisna, hal itu terbukti dia pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik, atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan,
dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan Bangsa.

"Tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan. Melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya. Pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan Bangsa dan Negara," ujarnya saat pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (09/11).

Selain itu kata dia, Raden As'ad syamsul Arifin juga dianggap pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas. Selain itu perannya dianggap berpengaruh pada harkat dan martabat bangsa serta memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi.

"Melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional," ucapnya.

Selain memberikan gelar pahlawan, Presiden Jokowi juga memberikan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra kepada dua orang tokoh yang juga dianggap berjasa. Keduanya adalah Andi Mattalatta, Tokoh dari Provinsi Sulawesi Selatan, dan Sroedji, tokoh dari Provinsi Jawa Timur.

"Keduanya diberi ini Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang luar biasa di berbagai bidang yang bermanfaat bagi kemajuan, kesejahteraan, dan kemakmuran Bangsa dan Negara," tambahnya.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!