Hakim tengah Pelatihan, Sidang Putusan Ekosistem Leuser Aceh Ditunda

"Proses kekecewaan dari para penggugat karena tidak diberitahukan sebelumnya. Kasihan mereka mengorbankan waktu dan meninggalkan keluarganya serta biaya,"

Selasa, 08 Nov 2016 14:47 WIB

Aksi warga menolak tambang di Gunung Leuser Aceh. (Sumber: FB Far Wisa Geram)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta - Majelis Hakim perkara pengembalian kawasan Leuser menjadi kawasan strategis menunda keputusannya hingga 29 November mendatang. Sidang putusan yang hanya dihadiri hakim ketua Agustinus Setya Wahyu Triwiranto hanya membacakan penundaan jadwal sidang hingga 3 pekan mendatang dengan alasan pendidikan dan pelatihan hakim.

Menanggapi penundaan pembacaan putusan itu koordinator kuasa hukum Gerakan Rakyat Aceh Menggugat (GERAM) Nurul Ikhsan mengaku kecewa. Kata dia, masyarakat Aceh yang peduli dengan kawasan ekosistem Leuser menunggu keputusan final  dari majelis hakim. Selain itu, kasus ini sudah berjalan lama di persidangan tanpa ada keputusan yang jelas.

"Dalam proses beracara di persidangan ini sebenarnya hal biasa.Hanya ada proses kekecewaan dari para penggugat karena tidak diberitahukan sebelumnya. Kasihan mereka mengorbankan waktu dan meninggalkan keluarganya serta biaya," jelas Nurul di Gedung PN Jakpus, Selasa (8/11/2016).

Sebelumnya, Warga Aceh yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Aceh Menggugat (GeRAM)  menggugat Kementerian Dalam Negeri di pengadilan negeri Jakarta Pusat demi menyelamatkan Kawasan Ekosistem Leuser. Mereka menuntut pemerintah mencabut Qanun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh no. 19 tahun 2013 yang tidak memasukkan Kawasan Ekosistem Leuser ke dalam kawasan strategis nasional.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Arsul Sani: KPK Jangan Bernafsu Tangani Korupsi Swasta

  • BPBD Lebak: Gempa Hantam 9 Kecamatan
  • Jerat Hari Budiawan, Warga Tumpang Pitu Protes Putusan Hakim
  • Gunakan GBK, Persija Naikan Tiket Pertandingan Piala AFC

Padahal para pekerja di kedua jenis industri ini kerap dituntut bekerja melebihi jam kerja dan juga kreativitas yang tak terbatas.