Presiden Jokowi dan Wapres JK berbincang sore (Kamis, 3/11) diteras Istana. (Foto: KBR/Adde I.)



KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo menganggap kritikan bekas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengatakan data badan intelegen soal dalang aksi 4 November sebagai ngawur adalah hal yang bagus. Kata dia, semua pihak boleh memberikan masukan apapun kepada pemerintah.

Kata Jokowi, siapapun memiliki kemungkinan melakukan kesalahan.

"Bagus, sangat bagus. Ya kan memberikan masukan pada pemerintah, ya bagus. Ya yang namanya manusia kan kadang-kadang bisa benar, bisa enggak benar. Bisa error, bisa enggak error. hahahaha," ujarnya kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (03/11).

Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden, Jusuf Kalla juga menganggap kritikan tersebut merupakan masukan yang berguna bagi pemerintah. Apalagi kata dia yang memberikan kritik adalah bekas   Presiden yang juga memiliki pengalaman dalam mengatur sektor keamanan suatu negara.

"Intelijen itu informasi kemudian dianalisa. Analisa kan boleh berbeda-beda. Mungkin yg ditangkap Pak SBY beda, analisa kita juga beda, itu biasa saja. Pada waktu itu juga sering, pasti memakai intelijen, itu biasa," ucapnya.

Namun kata dia, yang dilakukan intelejen justru untuk mencegah agar suatu hal yang tidak diinginkan tidak terjadi kedepannya.

"Kalau negara tidak ada intelijennya berarti tidak punya mata dan telinga. Intelijen itu maksud baik, supaya jangan terjadi," tambah JK.

Baca: Prabowo Meredam, SBY Memanaskan Lagi

Sebelumnya SBY mengkritik Badan Intelijen Negara (BIN) yang harusnya membawa data akurat. Dia menilai hal ini sudah menjurus ke fitnah.

"Kalau dikaitkan dengan situasi sekarang kalau ada info analisis intelijen seperti itu saya kira berbahaya, menuduh orang, kelompok, partai politik melakukan itu. Itu fitnah, fitnah lebih kejam dibanding pembunuhan," kata Ketua Umum Partai Demokrat SBY di Cikeas, Rabu (02/11).

SBY tak yakin ada yang menggerakkan aksi massa 4 November nanti. Menurut dia, demonstrasi itu murni penyampaian aspirasi masyarakat.

"Kedua menghina, rakyat bukan kelompok bayaran, urusan hati nurani tidak ada yang bisa mempengaruhi. Uang tidak ada gunanya, apalagi urusan akidah, banyak di dunia mereka rela korbankan jiwa demi akidah," tegas dia. 


Editor: Rony Sitanggang


 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!