Yusniar ibu rumah tangga di Jeneponto, Sulsel dijerat UU ITE oleh anggota DPRD setempat. (Sumber: Safenet Makasar)



KBR, Makassar- Ibu rumah tangga di Makassar yang dijerat UU ITE karena status Facebook akan menjalani sidang kedua besok. Yusniar disangka mencemarkan nama baik anggota DPRD Jeneponto lewat curhatnya di media sosial.

Pendamping Yusniar dari LBH Makassar  Aziz Dumpa  menyatakan besok kliennya akan membacakan eksepsi. Menurut dia, isi eksepsi itu antara lain adalah status Yusniar tidak pernah menyebut nama, sehingga tidak bisa dibawa ke ranah hukum.

"Sementara yang dituduhkan kepada Yusniar ini kan tindak pidana berdasarkan Pasal 27 UU ITE," ujarnya kepada KBR, Selasa (8/11/2016) malam.

"Ini kan delik aduan absolut, sehingga harusnya yang melaporkan ini adalah orang yang secara jelas dan secara nyata disebut dalam status itu," kata dia lagi.

Yusniar menyatakan seharusnya kasus ini diselesaikan sejak awal secara kekeluargaan. Kata dia, orang yang merasa berkeberatan dengan status Yusniar bisa melakukan klarifikasi.

"Agar kasus ini tidak sampai di pengadilan," jelasnya.

LBH Makassar mencatat sejak 2014 ada 3 kasus di Sulsel yang menggunakan UU ITE. Salah satunya hingga kini masih berjalan di pengadilan.

Kasus ini bermula dari sengketa warisan dengan saudara tiri orang tua Yusniar. Situs Safenet yang mendampingi Yusniar menulis  Anggota DPRD Jeneponto Sudirman Sijaya yang menjadi pengacara saudara tiri ayahnya mengerahkan ratusan orang untuk membongkar rumah orang tua Yusniar.

Besoknya Yusniar memasang status di Faceboknya menggunakan  kata tolol dalam status itu.  “Alhamdulillah Akhirnya selesai Juga Masalahnya. Anggota DPR t*lo, Pengacara t*lo. Mau nabantu orang yang bersalah, nyata-nyatanya tanahnya ortuku pergiko ganggui Poeng..,”. Yusniar tidak menyebut nama di status itu.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!