Ilustrasi: Personel Brimob mengamankan seorang pelaku teror yang menyusup dalam aksi unjukrasa saat simulasi penanganan kerusuhan Pilkada di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Senin (31/10). (Foto: Antara)



KBR, Jakarta- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta pemerintah mewaspadai keterlibatan simpatisan ISIS dalam demo terhadap Ahok di Jakarta, Jumat 4 November ini. Rais Syuriah PBNU Ahmad Ishomuddin mengatakan simpatisan ISIS ini ingin memanfaatkan situasi panas di Jakarta untuk kepentingan mereka.

Apalagi, kata dia, sudah ada 50 orang Indonesia yang kembali dari Suriah.

"Saya kira ini ada pihak-pihak,  yang saya tidak tahu siapa, yang ingin mengacaukan Negara Kesatuan Republik Indonesia," jelasnya dalam diskusi di Jakarta, Selasa (1/11/2016) siang

"Karena tidak mungkin FPI saja yang menggerakkan ini. Sebab ini gerakan hampir merata hampir dari berbagai daerah di Indonesia," tambahnya.

Ishomuddin juga mendesak pemerintah untuk menelusuri sumber dana aksi tersebut. Sebab, aksi ini mendatangkan banyak orang dari berbagai kota di Indonesia. Beberapa peserta unjuk rasa bahkan sudah tiba di Jakarta sejak Senin (31/10/2016) kemarin.

"Hal itu membutuhkan biaya akomodasi dan transportasi yang sangat besar jumlahnya," tegasnya.

Sejumlah Ormas Islam akan menggelar unjuk rasa mendesak proses hukum terhadap Ahok atas dugaan penistaan agama. Kasus itu kini berjalan di Kepolisian. Ahok sudah meminta maaf dan datang ke Bareskrim Polri untuk mengklarifikasi ucapannya.

Organisasi Islam besar seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan MUI menyatakan warganya tidak boleh ikut aksi. Mereka juga dilarang menggunakan  lambang atau atribut organisasi dalam aksi itu, namun membiarkan mereka ikut  dengan alasan hak pribadi.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!