Ilustrasi. Foto: Antara


KBR, Jakarta - Kepolisian kembali meminta masyarakat untuk tidak mudah mempercayai isu-isu yang berkembang dalam aksi unjuk rasa 4 November mendatang. Hal tersebut dilakukan lantaran maraknya informasi palsu (hoax), yang beredar melalui akun-akun media sosial.


Selain itu, Juru Bicara Kepolisian Jakarta, Awi Setiono juga menegaskan, kepolisian sudah menyiapkan langkah antisipasi jelang aksi unjuk rasa 4 November nanti. Termasuk soal kemungkinan aksi tersebut akan didompleng kelompok-kelompok yang berniat melaksanakan aksi teror. Kata Awi, Densus 88 yang khusus menangani terorisme juga sudah bersiaga.

"Itu (terorisme) sudah ada yang membidanginya. Densus 88 juga terus memonitor segala kemungkinan yang akan terjadi. Sekali lagi, jangan terlalu percaya dengan rumor-rumor yang bisa membuat resah, yang ada di medsos. Tanpa diberitakan, tanpa disampaikan ke publik, Densus terus menyisir dan melakukan pemantauan-pemantauan, serta penindakan-penindakan. Selama ini hal tersebut terus dilakukan," jelasnya ketika dihubungi KBR melalui sambungan telepon.

Baca: Cegah Ikut Aksi 4 November, Polisi Bogor Sekat 4 Lokasi

Sebelumnya, pengamat terorisme Sydney Jones menyebut aksi demonstrasi terhadap Gubernur nonaktif DKI, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akan dimanfaatkan oleh kelompok militan ISIS untuk melancarkan teror. Ia pun memaparkan sejumlah bukti yang menunjukkan hal tersebut. Salah satunya adanya seruan yang muncul di aplikasi perbincangan, Telegram.

"Juga ada di channel Telegram yang dikuasasi orang pro-ISIS semacam seruan atau perintah kepada pengikutnya untuk memanfaatkan demo tanggal 4 November untuk bikin kerusuhan. Dan untuk mengipas api jihad di seluruh pelosok Indonesia," jelasnya dalam diskusi di Jakarta, Selasa (1/11/2016) sore.

Lebih lanjut Sydney juga menjelaskan, di aplikasi Telegram itu juga ada seruan untuk meniru apa yang dilakukan pemuda di Tangerang yang menusuk anggota kepolisian. Simpatisan ISIS diminta memanfaatkan kehadiran banyak anggota polisi yang akan menjaga demo itu. Sehingga menurutnya metode serangan yang lebih mungkin dilakukan adalah tusukan pisau bukan ledakan bom.

Hal lain yang menjadi tanda, menurutnya, adalah kehadiran kelompok yang berafiliasi dengan Abu Jibril dalam kelompok yang bertemu dengan politisi Gerindra Fadli Zon, pekan lalu. kata dia, sudah terlihat hubungan antara kelompok-kelompok pro-ISIS dan kelompok intoleran di Jakarta.

Polisi Pantau Pintu Masuk ke Jakarta
Sementara itu, pengamanan yang dilakukan kepolisian juga dilakukan di sejumlah titik yang menjadi pintu masuk ke Jakarta, semisal terminal dan stasiun. Para personel kepolisian, ujar juru bicara Kepolisian Awi Setiono, juga akan ditempatkan di sejumlah titik itu.

"Kami hanya memonitor. Jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau untuk pengawasan, tentu kami lakukan. Di terminal-terminal, maupun stasiun-stasiun. Jangan sampai ada yang membawa sajam (senjata tajam-red), atau barang-barang berbahaya lain," imbuhnya.

Baca: Larang Ikut Aksi 4 November, Said Aqil : NU Dibuat Bukan Untuk Demo


Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!