Ilustrasi (sumber: Antara)



KBR, Jakarta- Badan Pusat Statistik mengumumkan perekonomian Indonesia pada triwulan ketiga 2016 tumbuh sebesar 5,02 persen. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, nilai itu menurun jika dibandingkan dengan triwulan kedua 2016 yang mencapai 5,18 persen.

Kata dia, pertumbuhan ekonomi pada triwulan ketiga itu didorong oleh hampir semua lapangan usaha, terutama lapangan usaha informasi dan komunikasi.

"Ekonomi Indonesia triwulan ketiga 2016 ini, yoy-nya tumbuh 5,02 persen. Pada triwulan ketiga 2016, kalau dibandingkan triwulan kedua tumbuh 3,12 persen. Dengan posisi ini, berarti secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai triwulan ketiga tumbuh 5,04 persen," kata Suhariyanto di kantornya, Senin (07/11/16).

Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan ketiga ini ditopang oleh semua lapangan usaha, terutama informasi dan komunikasi sebesar 9,20 persen. Adapun jasa keuangan dan asuransi tumbuh 8,83 persen, dan usaha transportasi dan pergudangan tumbuh 8,20 persen.

Mengenai konsumsi masyarakat, kata Suhariyanti,  mulai meningkat seiring membaiknya harga bahan komoditas global. Suhariyanto juga menyebutkan beberapa peristiwa yang menekan pertumbuhan ekonomi pada triwulan ketiga ini. Peristiwa itu misalnya penjualan mobil yang menurun 5,09 persen dibandingkan kuartal ketiga 2015, menjadi 251,340 unit dan produksi semen yang tumbuh 5,22 persen menjadi 14,81 juta ton. 


Sektor Tambang

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada triwulan ketiga 2016, sektor pertambangan mulai mengalami perbaikan, setelah sejak akhir 2014 mengalami tekanan. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pada triwulan ketiga 2016, sektor pertambangan memberikan sumbangan positif pada pertumbuhan ekonomi, yang tercatat tumbuh 5,02 persen secara year on year.

Kata dia, pada triwulan ketiga itu, sektor pertambangan mampu tumbuh positif sebesar 0,13 persen.

"Pertambangan itu positifnya sejak kapan, ini saya mencatat mulai 2015. 2015 di triwulan kesatu itu negatif, triwulan kedua, dan semua negatif, sampai triwulan kedua 2016. Baru pertama ini kali dia positif, karena saya bilang tadi, ada peningkatan harga untuk barang logam seperti emas dan tembaga," kata Suhariyanto di kantornya, Senin (0711/16).

Suhariyanto mengatakan, sektor pertambangan dan penggalian memang belakangan ini tertekan harga menurunan harga komoditas dunia. Kini, di samping harga komoditas mulai membaik, beberapa bahan tambang logam seperti emas dan tembaga juga mengalami peningkatan jumlah produksi, sehingga mampu tumbuh positif.

Hari ini, BPS mengumumkan perekonomian Indonesia pada triwulan ketiga 2016 tumbuh sebesar 5,02 persen, atau turun dibanding triwulan sebelumnya yang mampu tumbuh hingga 5,18 persen. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan ketiga ini ditopang oleh semua lapangan usaha, terutama informasi dan komunikasi sebesar 9,20 persen. Adapun jasa keuangan dan asuransi tumbuh 8,83 persen, dan usaha transportasi dan pergudangan tumbuh 8,20 persen. Selain itu, konsumsi masyarakat juga mulai meningkat seiring membaiknya harga bahan komoditas global.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!