BPS: Ekspor-Impor Mulai Pulih

"Ekspor di akhir tahun ada dorongan yang tinggi, dan November juga. "

Selasa, 15 Nov 2016 17:09 WIB

Ilustrasi (sumber: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta-  Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan kinerja ekspor dan impor Indonesia mulai memasuki tren pemulihan. Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, tren itu dimulai saat pencatatan kinerja ekspor-impor bulan Agustus 2016 yang mengalami surplus. Kini, saat BPS merilis kinerja neraca perdagangan bulan Oktober, tren surplus itu masih berlanjut dan diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir tahun.

Meski begitu, apabila dilihat secara kumulatif, neraca perdagangan tahun ini lebih lemah dibanding periode yang sama tahun lalu.

"Untuk gambaran ke depan, saya kira prospektif, karena sepanjang masih bisa di atas USD 12 miliar di November dan Desember, akan cukup baik. Dan bahkan saya berharap, terutama di manufaktur, karena komponen utama ekspor di manufaktur, kalau bisa lebih baik dari 2015. Ekspor di akhir tahun ada dorongan yang tinggi, dan November juga. Minimum 12 saja. Trennya sekarang kan kalau dilihat seperti itu," kata Sasmito di kantornya, Selasa (15/11/16).

Sasmito mengatakan, lembaganya mencatat sejak Agustus 2016, nilai ekspor Indonesia nilainya selalu di atas USD 12,50 miliar. Padahal, dalam periode yang sama tahun lalu, nilai ekspornya hanya berkisar USD 12,2 miliar. Adapun nilai impornya, sejak Agustus juga menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pada Agustus, nilai ekspor sebesar USD 12,39 miliar, September senilai USD 11,30 miliar, dan Oktober senilai 11,47 miliar. Sedangkan pada periode yang sama tahun lalu nilainya sebesar USD 11,11 miliar hingga USD 12,4 miliar.

Namun, kata Sasmito, secara kumulatif Januari hingga Oktober, neraca perdagangan Indoensia masih tumbuh negatif dibanding 2015 lalu. Kata Sasmito, nilai ekspor sepanjang tahun ini senilai USD 117,09 miliar, atau turun 8,04 persen dibanding tahun lalu. Adapun impornya, secara kumulatif tercatat USD 110,17 miliar, atau turun 7,5 persen.

Sasmito berujar, tren itu masih bisa terus berlanjut hingga akhir tahun. Alasannya, tren ekspor-impor akan meningkat pada akhir tahun. Apalagi, kata dia, saat ini harga komoditas ekspor Indonesia sudah memasuki tren perbaikan, seperti untuk minyak kelapa sawit, batu bara, dan karet. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau