Mendiang Intan Olivia (2,5 tahun) korban pelemparan bom di Gereja Oikumene, Samarinda. (Foto: Antara)


KBR, Jakarta- Menteri Sekretaris Kabinet, Pramono Anung mengakui program deradikalisasi yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme belum berhasil. Kata dia, hal itu terbukti dengan adanya peristiwa ledakan bom molotov di depan Gereja Oikumene, Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Lo Janan Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur(Kaltim) kemarin.

"Proses deradikalisasi tetap harus dilakukan. Bahwa  program ini tidak 100 persen berhasil kenyataannya yang terjadi di Samarinda kemarin," ucapnya kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (14/11).

Kata dia, program deradikalisasi dan hukuman yang diberikan kepada pelaku bom Samarinda kemarin terbukti tidak menimbulkan efek jera kepada pelaku. Pasalnya kata dia, pelaku melakukan aksinya dengan penuh kesadaran jika dilihat dari waktu pelaksanaan dan objek terornya.

"Ya kenyataannya dia masih melakukan. Dan untuk itu harus ada langkah tegas terhadap yang bersangkutan. Karena memang kalau dilihat pola cara dan secara terbuka apalagi ini dalam waktu orang bisa melihat dia secara terang-terangan, ini menunjukkan bahwa yang bersangkutan melakukan dengan penuh kesadaran," ucapnya.

Oleh karenanya kata dia, meski tidak menjelaskan secara rinci soal apa yang harus dievaluasi, pemberatan hukuman dan program deradikalisasi tetap harus dilakukan oleh Pemerintah kedepannya. Selain itu kata dia, penyelidikan soal pelaku melakukan aksinya atas keinginan sendiri atau ada jaringan dibelakangnya harus diintensifkan. Dengan begitu, pencegahan bisa terus dilakukan.

"Kalau dilihat pelakunya, ini orang lama. Jaringannya pasti tidak jaringan tunggal. Pasti jaringan lama. Kalau dilihat demonstratifnya, melakukan pada siang hari tanpa perlindungan apa-apa, kemudian enggak gampang ditangkap masyarakat, ini menunjukkan memang dia menyiapkan diri jadi martir. Program deradikalisasi tetap harus dilakukan, ini merupakan pekerjaan di BNPT, tapi yang kedua, penegakan hukum juga penting. Sangat penting," tambahnya.

Senada ditegaskan bekas kepala BNPT Ansyaad Mbai. Dia menyebut antisipasi untuk kegagalan program deradikalisasi  adalah dengan   penegakan hukum yang tegas.

Kata Anyaad tak semua teroris bisa menerima program deradikalisasi.

"Ya satu-satunya jalan itu ya hukum kita harus tegas. Itu saja, itu yang bisa kita andalkan itu. Ya silahkan begitu kedapatan melakukan ya tindak tegas, itu dimana-mana begitu," ujar Ansyaad kepada KBR Senin, (14/11/2016).

Meski begitu Ansyaad tidak mengetahui apakah pelaku bom gereja di Samarinda waktu itu termasuk  penolak program deradikalisasi atau tidak. Ansyaad mengklaim program deradikalisasi  telah banyak membuahkan hasil.

"Umumnya semua teroris yang sangat militan tentunya mereka nggak suka itu. Ya banyak yang ikut, jadi diantara mereka cukup banyak yang ikut dan sampai sekarang mereka baik-baik aja dan bahkan kooperatif dengan polri. Banyak, ada di antara mereka bahkan ikut program deradikalisasi. Anda lihat Nasir Abbas itu siapa, Ali Imron siapa, saudaranya Mukhlas si Ali Fauzi sampai S2 ceramah di mana-mana. Mengemban program deradikalisasi," paparnya.

Ansyaad menambahkan, untuk teroris militan, pendekatan yang dilakukan  dengan mendatangkan ahli agama  dari Jordan, atau bahkan eks pendiri JI Mesir. Kata dia, itu juga kadang masih ada penolakan.

Sebelumnya, Sebelumnya, seorang pria melemparkan bom ke arah Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda, Kalimantan Timur, pagi tadi sekitar pukul 10.10 Wita. Saat itu para jemaat baru saja setelah melaksanakan ibadah dan keluar menuju area parkiran.

Akibat ledakan, empat anak-anak yang berusia di bawah lima tahun menjadi korban. Seorang di antaranya Intan Olivia (2,5 tahun) pagi tadi meninggal akibat parahnya luka bakar yang dideritanya.


Editor: Rony Sitanggang

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!