Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Antara)


KBR, Jakarta- Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan target penerimaan negara dari perpajakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016 yang didiskon, salah satunya karena realisasi pertumbuhan ekonomi yang masih lemah. Sri mengatakan, tren pelemahan pertumbuhan ekonomi masih terus berlangsung hingga sekarang. 

Sri pun menyebutkan realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan ketiga 2016 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini, yang hanya 5,02 persen.

"Ini confirm, bahwa ekonomi kita denyutnya memang melemah, kalau dilihat sebetulnya mulainya 2015. Oleh karena itu, untuk Ditjen Pajak bisa mencapai pertumbuhan penerimana pajak, saya sudah mendiskon target Anda 218 (triliun). Coba kalau menterinya enggak ganti Anda masih harus ngumpulin 218 lagi. Saya sudah diskon shortfall (realisasi) 218, karena kita melihat seluruh sektor ekonomi," kata Sri di depan seluruh kepala kantor wilayah Pajak di kantor pusat Ditjen Pajak, Senin (07/11/16).

Sri mengatakan, masih lemahnya perekonomian Indonesia itu terkorelasi dengan masih rendahnya realisasi penerimaan pajak. Direktorat Jenderal pajak mencatat, sampai Oktober 2016, realisasi penerimaan baru Rp 870,95 triliun atau 64,27 persen dari target dalam APBNP 2016 yang senilai Rp 1.355,2 triliun.

Selain itu, neraca perdagangan ekspor dan impor sejak awal tahun ini juga masih sangat lemah. Kata Sri, data BPS menyebutkan, pada triwulan ketiga kemarin, pertumbuhan ekspor minus 6 persen, sedangkan impor minus 3,87 persen. Demikian halnya dengan belanja pemerintah, yang selama ini menjadi faktor kuat pendorong ekonomi. Pada triwulan ketiga, realisasi belanja pemerintah minus 2,97 persen, akibat kebijakan pemangkasan dan penundaan anggaran belanja.

Hari ini, BPS mengumumkan perekonomian Indonesia pada triwulan ketiga 2016 tumbuh sebesar 5,02 persen, atau turun dibanding triwulan sebelumnya yang mampu tumbuh hingga 5,18 persen. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan ketiga ini ditopang oleh semua lapangan usaha, terutama informasi dan komunikasi sebesar 9,20 persen. Adapun jasa keuangan dan asuransi tumbuh 8,83 persen, dan usaha transportasi dan pergudangan tumbuh 8,20 persen. Selain itu, konsumsi masyarakat juga mulai meningkat seiring membaiknya harga bahan komoditas global.

Editor: Rony Sitanggang
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!