Kapolri Tito Karnavian. Foto: Antara


KBR, Jakarta- Pasukan gabungan Polri dan TNI melaksanakan apel gelar pasukan untuk menjaga tahap kampanye dalam pilkada serentak 2017. Gelar pasukan ini juga dalam rangka persiapan menghadapi unjuk rasa beberapa organisasi masyarakat pada 4 November mendatang.


Kepala Kepolisian Indonesia, Tito Karnavian mengatakan, hal ini untuk menunjukkan kesiapan dan soliditas Polri dan TNI. Apel gabungan ini merupakan pengecekan terakhir terhadap pasukan yang mendapat tugas pengamanan pilkada serentak 2017.

"Acara ini secara umum memberi sinyal kepada Indonesia agar jajaran TNI dan Polri lebih persiapkan diri dalam menghadapi pilkada. Khusus di Jakarta, kita juga melihat kerawanan-kerawanan," kata Tito di Lapangan Monas, Rabu (02/11/16).

Tito menjelaskan, kerawanan yang dimaksud yaitu adanya polarisasi dalam masyarakat untuk memilih pimpinan daerah. Menurutnya, pemisahan kelompok masyarakat ini merupakan potensi konflik. Itu karena ada perbedaan-perbedaan kepentingan.

"Kita harap Masyarakat gunakan hak demokrasi mereka sesuai hukum," ujarnya.

Baca: Demo 4 November, Densus 88 Juga Siaga

Tito meminta masyarakat yang akan melaksanakan demonstrasi untuk mengikuti aturan yang ada. Pertama tidak mengganggu hak asasi orang lain, kedua tidak boleh mengganggu ketertiban umum, ketiga tidak boleh melanggar etika dan moral, dan keempat harus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

"Kalau ada pihak yang ingin mengganggu, TNI dan Polri tentu akan bertindak tegas," kata Tito.

Sekitar empat ribu pasukan gabungan ikut dalam gelar pasukan kali ini. Tito mengatakan, 18 ribu pasukan gabungan akan diterjunkan untuk menjaga unjuk rasa pada 4 November. Ia memperkirakan jumlah pengunjuk rasa nanti lebih dari 50 ribu orang.

Baca juga: Imam Besar Masjid Istiqlal: Ucapan Ahok Bukan Penistaan


Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!