Bentrokan saat aksi 4 November. (Foto: Antara)


KBR, Jakarta- Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto meminta masyarakat tidak hanya mengandalkan aparat keamanan untuk menangkal aksi terorisme  dalam aksi 2 Desember mendatang. Kata dia, peserta aksi juga harus mewaspadai adanya potensi terorisme. Itu sebab, Wiranto menyarankan peserta segera melaporkan apabila ada indikasi adanya penyusupan dalam massa aksi.

"Saya sudah jelaskan jangan andalkan aparat keamanan. Aparat sudah sedapat mungkin meredam, mencegah dan memproteksi itu. Tetapi sebaiknya kalau masyarakat yang ingin damai langsung melaporkan kalau ada penyusupan-penyusupan yang membuat aksi itu kisruh. Jadi kerja sama antara para pengunjuk rasa yang damai dengan aparat keamanan, itu sudah ada kompromi. Kita gak akan kecolongan, insya Allah mudah-mudahan ya," kata Wiranto di Kemenkopolhukam, Rabu (30/11/2016).

Wiranto menambahkan, selain menyiapkan masalah pengamanan, sejumlah kementerian terkait juga bakal turut mengawal aksi 2 Desember. Kata dia, Kementerian Kesehatan bakal menyiapkan fasilitas kesehatan, Kementerian Perhubungan menyediakan transportasi bagi peserta aksi yang berasal dari daerah. Dan Kementerian Agama bakal memberikan tausiyah yang memberi ketenangan.

"Kita punya Kemenkes membantu ambulan, Kemenhub agar ada angkutan  yang mengangkut mereka ke daerah masing-masing, ada dari Polri tentang konsep, dan Kemenag, memberi tausiyah yang benar, dan mengendalikan emosi massa," lanjut Wiranto.

Sementara itu bekas kepala Badan National Pemberantasan Terorisme (BNPT)  Ansyaad Mbai meminta pemerintah khususnya kepada Kepolisian   dan Detasemen Khusus Antiteror 88 untuk mewaspadai pergerakan pecahan jaringan terorisme yang baru saja di tangkap di Majalengka dan Samarinda beberapa waktu lalu. Pasalnya kata dia sudah menjadi tabiat jaringan teroris, bagi anggota yang tidak tertangkap akan dengan cepat membuat jaringan baru.

Kata Ansyaad, semangat mereka untuk melakukan aksi kemungkinan besar bisa disalurkan pada aksi demonstrasi 2 Desember mendatang.

"Kan sudah terungkap semua itu jaringan dari kelompok Majalengka itu kemudian kelompok yang Samarinda itu yang sudah jelas yah. Kemudian yang sebetulnya yang mengkhawatirkan itu bahwa antara kedua kelompok itu, itu ternyata sudah ada link dengan ISIS. Soal teroris ini jangan dilihat kasus per kasus. Semua pasti berhubungan dengan negara lain," ujarnya kepada KBR, Rabu (30/11).

Kata dia, menurut data yang ada setidaknya sudah 70 orang WNI yang sebelumnya berada di Suriah untuk ikut ISIS, sudah kembali ke Indonesia. Orang-orang ini kata dia sangat berpotensi melakukan aksi teror di Indonesia Apalagi  ada instruksi dari ISIS pusat untuk melakukan aksi di negara masing-masing setelah keberadaan mereka terdesak di Syuriah.

"Peran 9 orang yang ditangkap di Majalengka itu dan mereka ikut dalam aksi tanggal 4 November kemarin itu juga berperan sebagai kelompok yang membiayai dan memberangkatkan jihadis Indonesia ke Syuriah. Jadi kalau ada yang bilang ISIS itu seakan-akan jauh itu salah, mereka sangat dekat," ucapnya.

Dia menambahkan, pemerintah juga harus bisa memastikan dalam aksi tanggal 2 Desember mendatang tidak ada ujaran-ujaran kebencian dilakukan oleh perserta aksi terutama tokoh-tokoh yang menggagas aksi. Pasalnya menurut dia, ujaran kebencian seperti dengan mudah menetapkan orang lain kafir bisa  dijadikan alasan pelaku   untuk melakukan aksi teror. Kata dia, ada beberapa tokoh radikal yang justru dengan mudah bebas leluasa menyuarakan ujaran kebencian dengan ikut dalam aksi tersebut.

"Menurut ulama senior di Timur Tengah, subtansi radikalisme dan terorisme adalah paham takfiri. Apa itu, ialah yang mengkafir-kafirkan orang. Anda lihat pada demo tanggal 4 November kemarin, bahkan saya melihat hal itu semakin leluasa sejak tahun 2012 lalu saat ada isu soal Gubernur DKI tandingan," tambahnya.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!