Tahun Politik, Jokowi Minta Tak Ada Perpecahan

Presiden Joko Widodo meminta masyarakat tidak saling memusuhi hanya karena perbedaan pilihan politik dalam pemilihan kepala daerah maupun pemilihan presiden.

Rabu, 11 Okt 2017 18:14 WIB

Presiden Joko Widodo. (Foto: Setkab)

KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi perpecahan pada tahun politik. Ia meminta masyarakat tidak saling memusuhi hanya karena perbedaan pilihan politik dalam pemilihan kepala daerah maupun pemilihan presiden.

Presiden menegaskan jangan mengorbankan persaudaraan dan persatuan hanya demi kontestasi lima tahun sekali.

"Kalau ada gesekan kecil-kecil ya biasa. Terutama saat Pilkada. Ada yang ngompori-ngompori, masyarakat panas. Ada yang manas-manasi dengan isu, masyarakat menjadi terpancing. Ini saya titip yang namanya Pilwakot, Pilbup, Pilgub, Pilpres itu hanya kontestasi lima tahun sekali. Jangan korbankan gara-gara Pilwakot, Pilbup, Pilgub, Pilpres  kita menjadi pecah. Tidak, kita harus berani bilang itu," kata Jokowi di sela pembagian sertifikat tanah di Tangerang Selatan, Banten, Rabu (11/10/2017).

Baca: 3 Tahun Jokowi-JK, Survei Indikator 68,3 Persen Puas

Jokowi menambahkan, kewaspadaan terhadap potensi perpecahan ini penting mengingat kondisi bangsa Indonesia yang sangat beragam dari sisi etnis, agama, maupun bahasa. Ia kembali menuturkan wejangan dari Presiden Afghanistan Ashraf Ghani untuk segera menyelesaikan konflik sekecil apapun yang terjadi di masyarakat.

"Presiden Jokowi hati-hati negaramu. Kalau ada konflik sedikit tetangga dengan tetangga segera selesaikan. Kampung dengan kampung segera selesaikan. Jangan sampai melebar meluas kemana-mana. Apalagi suku dengan suku, apalagi urusan agama, segera selesaikan, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia," ujar Jokowi menirukan ucapan Ashraf Ghani.

Desember nanti, rombongan pemerintah dan ulama dari Afghanistan akan berkunjung ke Indonesia. Menurut Jokowi, mereka ingin belajar bagaimana Indonesia membangun kerukunan dan persaudaraan. Afghanistan selama lebih dari 25 tahun tersandera akibat konflik.

"Mereka akan dijadikan contoh betapa kita ini rukun, bersatu, baik persaudaraan, ukhuwah islamiyah, wathaniyah, bashariyah, semuanya kita bisa menjalani," tuturnya.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi