2 Penyidik Hilangkan Barang Bukti, Ini Kata Wakil Ketua KPK

Laode enggan menjelaskan pembicaraan internal terhadap kedua penyidik yang sudah dikembalikan ke Kepolisian tersebut.

Senin, 30 Okt 2017 20:44 WIB

Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif. (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Laode Muhammad Syarif mengaku  masih membahas lebih lanjut secara internal soal dua orang penyidik Polri yang diduga menghilangkan bukti terkait suatu perkara korupsi yang ditangani KPK.

Meski demikian, Laode masih enggan menjelaskan lebih lanjut soal sudah sejauh mana pembicaraan internal terhadap kedua penyidik yang sudah dikembalikan ke Kepolisian tersebut.

"Untuk itu kami belum bisa memberikan komentar ya, karena baik itu di dalam maupun di itu sedang dibicarakan. Kami belum bisa memberikan konfirmasi atas dua itu," ujarnya kepada wartawan di kantor KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (30/10).

Sebelumnya, juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan bahwa benar ada 2 penyidik KPK yang dikembalikan ke Polri pada awal   Oktober 2017.  Alasan pengembalian itu kata Febri semata-mata karena masa tugas kedua orang tersebut di KPK telah berakhir.

Dia membantah kalau pengembalian kedua penyidik tersebut karena telah melakukan pelanggaran saat menjalani tugasnya.

"Proses rekruitmen dan penugasan seperti ini merupakan hal yang wajar dalam aspek kepegawaian di mana pun, baik di KPK ataupun Polri. Saat ini jumlah penyidik KPK 93 orang. 48 di antaranya berasal dari Polri dan 45 orang merupakan pegawai tetap yang diangkat oleh KPK," kata Febri.

Sebelumnya Tempo memuat adanya 2 eks penyidik KPK yang  diduga merusak Barang bukti itu berupa catatan pengeluaran keuangan dua perusahaan Basuki Hariman, penyuap Patrialis, untuk memenangkan gugatan uji materi Undang-Undang Kesehatan Hewan di Mahkamah Konstitusi.  Catatan tersebut memuat sejumlah pejabat yang diduga menerima aliran duit dari perusahaan Basuki.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.