Warga Bukit Duri Tetap Ogah ke Rusun Rawa Bebek

Warga menilai rumah susun tidak memenuhi tuntutan ganti rugi.

Kamis, 06 Okt 2016 09:57 WIB

Satpol PP memindahkan anak-anak dari lokasi penggusuran di kawasan Bukit Duri. Foto: KBR/Gilang

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Warga Bukit Duri, Jakarta, yang pekan lalu digusur pemerintah tetap menolak pindah ke rusun Rawa Bebek yang disediakan sebagai ganti rugi.


Pengacara warga, Vera Soemarwi, menyatakan sepekan ini warga mengontrak di sekitar lokasi penggusuran. Sebagian warga juga ada yang menumpang di rumah kerabat mereka.

Kata Vera, warga menilai rumah susun tidak memenuhi tuntutan ganti rugi. 

"Pertimbangan yang sangat sederhana adalah: Dulu kan punya rumah, tapi sekarang kok harus bayar kontrakan? Itu bukan bentuk ganti rugi," jelasnya ketika ditemui KBR dalam pentas seni sepekan memperingati penggusuran. 

"Mereka juga tanya-tanya. Mereka sudah langsung survei langsung ke Rawa Bebek. Lokasinya juga jauh. Dan ada jangka waktu sewanya, setelah waktu sewa habis kemudian bagaimana nasib mereka? Itu yang menurut mereka tidak adil," tambah dia lagi. 

Vera menjelaskan, saat ini warga masih menunggu dua gugatan hukum yang berjalan di pengadilan. Gugatan ini adalah gugatan terhadap Pemprov Jakarta di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan gugatan soal kewenangan Satpol PP di Pengadilan Tata Usaha Negara.

Kata dia, saat ini warga terus menggalang kekuatan untuk terus mengawal proses di pengadilan. Di saat yang bersamaan, mereka juga terdesak secara ekonomi. "Mereka harus mulai dari nol lagi," ujarnya.

 Penggusuran terhadap pemukiman di RW 9,10,11, dan 12 Kelurahan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, dilakukan Rabu (28/9/2016) pekan lalu. Penggusuran merupakan bagian dari program normalisasi sungai Ciliwung. Pemerintah DKI menargetkan normalisasi Ciliwung selesai awal 2017.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Saracen, Analisis PPATK sebut Nama Besar

  • Bentuk Densus Tipikor, Mabes Minta Anggaran Hampir 1 T
  • Bareskrim Sita Jutaan Pil PCC di Surabaya
  • Konflik Myanmar, Tim Pencari Fakta PBB Minta Tambahan Waktu