Tax Amnesty, BI Minta Pemerintah Segera Belanjakan Tebusan

"Mestinya uang atau revenue dari tax amnesty ini harus segera dibelanjakan, sehingga likuiditas di perbankan tidak semakin berkurang."

Kamis, 06 Okt 2016 21:03 WIB

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta- Bank Indonesia meminta pemerintah   segera membelanjakan dana yang diperoleh dari tebusan program pengampunan pajak atau tax amnesty. Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung mengatakan, belanja pemerintah dari uang tebusan akan mengurangi risiko pengetatan likuiditas di perbankan.

Pasalnya, kata Juda, para wajib pajak menarik dana dari perbankan, demi membayar tebusan tax amnesty.

"Ke depan, mestinya uang atau revenue dari tax amnesty ini harus segera dibelanjakan, sehingga likuiditas di perbankan tidak semakin berkurang. Dengan repatriasi tax amnesty yang sampai Desember ini Rp 137 triliun, tentunya ini akan menambah likuiditas, paling tidak sejak akhir Desember. Sehingga, kami perkirakan pada kuartal pertama 2017, likuiditas akan lebih baik," kata Juda di kantornya, Kamis (06/10/16).

Juda mengatakan, hingga September 2016, dana pihak ketiga (DPK) atau simpanan perbankan menunjukkan tren penurunan dibandingkan periode sama tahun lalu. Kata dia, penurunan DPK itu mencapai 2 sampai 3 persen (year on year/yoy). Dia juga berkata, pada Agustus 2016, penurunan DPK malah mencapai sekitar 5 persen (yoy). Kata dia, itu karena banyak nasabah yang menarik dana untuk tax amnesty dan menyetorkannya pada bank BUMN, yang sebelumnya telah ditunjuk pemerintah menampung dana tebusan.

Juda berujar, belanja pemerintah menggunakan uang tebusan tax amnesty akan memutarkan kembali dana yang mengendap di beberapa perbankan. Apalagi, kata Juda, saat dana repatriasi tax amnesty mulai mengalir ke dalam negeri. Juda memperkirakan, berkat tax amnesty, DPK perbankan bisa tumbuh sekitar 7 sampai 9 persen (yoy) di akhir tahun.

Juda berkata, dana repatriasi tax amnesty akan memberikan pengaruh pada likuiditas perbankan pada akhir 2016 dan kuartal pertama 2017. Alasannya, kata Juda pada akhir tahun, akan ada dana repatriasi yang mengalir ke dalam negeri, sekitar Rp 200 triliun. Sehingga, kata dia, kondisi likuiditas perbankan akan membaik.


Editor: Rony Sitanggang
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.