Larung atau sedekah laut di Laguna Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: KBR/Muhamad Ridlo)



KBR, Cilacap– Nelayan di Kampung Laut Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah menggelar larung laut atau sedekah laut, Jumat (06/10/2016).  Ketua Panitia Sedekah Laut Kampunglaut, Sutarno Paino mengatakan gelaran ini merupakan tradisi turun temurun yang sudah dilakukan oleh nenek moyang masyarakat Kampung Laut dan Cilacap sejak berabad lalu.
 
Kata Sutirno ritual dilakukan selama dua hari, mulai Kamis sore, dengan puncak larungan atau buang sesaji ke tengah laut. Puncak hari ini bertepatan dengan hari Jumat Kliwon bulan Sura (Muharam) dalam penanggalan jawa.
 
Menurut Sutarno, sedekah laut di Kampung Laut selalu dilakukan pada hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon bulan Sura. Sebab, dua hari ini dianggap hari besar atau keramat, bagi masyarakat jawa.

"Larung itu sudah dimulai sejak kakek nini (nenek moyang) kami. Dan itu tidak boleh hilang. Maka, tiap tahun pada bulan Suro itu dilaksanakan syukuran para nelayan. Karena itu merupakan budaya masyarakat nelayan. Tujuannya, kami ini sebagai masyarakat nelayan bersyukur atas rezeki Allah yang diberikan kepada kami." Jelas Ketua Panitia Sedekah Laut Kampunglaut, Sutarno Paino, Jumat (07/10).

 
Lebih lanjut Sutarno mengemukakan, ritual Kamis sore adalah seserahan sesaji dari panitia kepada tetua adat. Selanjutnya, pada Kamis malam, sesaji   didoakan oleh para tetua adat di balai desa masing-masing desa, yakni Ujunggagak, Panikel, Klaces dan Desa Ujungalang. Selanjutnya, pada Jumat pagi, sesaji dilarung atau dihanyutkan ke tengah laut.

 
Sutarno menambahkan, sedekah laut merupakan wujud syukur kepada Tuhan setelah sepanjang tahun nelayan mendapat rejeki dari laut. Sedekah laut juga merupakan doa supaya nelayan dan masyarakat Cilacap secara umum diberikan keselamatan.

 
Editor: Rony Sitanggang
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!