Ilustrasi. Aksi kampanye tolak isu SARA di Jakarta. (Foto: ANTARA)



KBR, Jakarta - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyatakan isu agama dan suku atau etnis sangat mempengaruhi tingkat elektabikitas pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat.

Survei LSI menyebutkan pasangan ini berpotensi besar kalah suara jika dihadapkan dalam pertarungan head to head di putaran kedua Pilkada DKI 2017 mendatang.

Peneliti LSI, Ardian Sopa memperingatkan tim sukses pasangan ini tidak boleh mengabaikan kedua faktor tersebut.

Dua pasangan lainnya, yakni Agus Harimurti dan Sylviana Murni serta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno relatif unggul karena memiliki kesamaan profil pemilih.

"Secara basis, secara tipe profil pemilih, itu mempunyai tipe profil yang sama. Misalnya, dia pilih Agus-Sylvi. Ketika pada awalnya dia pilih Agus Sylvi, ada sekitar 19,3 persen. Kemudian ketika calonnya ada dua, kita lihat perolehan suaranya kemana. Memang ada yang ke Ahok-Djarot, tapi secara jumlah hanya 14,3 persen," kata Ardian di kantor LSI, Jumat (7/10/2016).

Baca: Tim Sukses Saling Serang Lawan, Bawaslu Tegur Bacagub DKI

Berdasarkan data tersebut, kata Ardian Sopa, umumnya pemilih Ahok-Djarot adalah masyarakat non muslim, dari suku Tionghoa, berpendidikan rendah, berasal dari kelas ekonomi menengah ke atas, dan berusia di atas 40 tahun.

Sementara untuk dua pasangan lain, profil pemilih mereka tipikal; masyarakat muslim, dari berbagai suku selain Tionghoa, berpendidikan tinggi, dengan penghasilan di bawah 3,5 juta, dan berusia 17-40 tahun.

Survei LSI menyebutkan, di putaran pertama, Ahok-Djarot tetap unggul karena dua calon lain masih berbagi pemilih dengan profil yang sama. Namun skenario berbeda jika hanya tersisa dua pasangan.

Jika head to head terjadi antara Ahok dan Anies, 64,3 persen pendukung Agus akan mengalihkan suaranya pada Anies. Sementara 21,4 persennya merahasiakan pilihannya. Jika di putaran kedua nanti Ahok berhadapan dengan Agus, maka LSI mencatat ada 59,1 persen pendukung Anis yang beralih pada sosok Agus.

Menurut Ardian, tim sukses Ahok dan Djarot harus mulai memikirkan cara memperkecil sentimen negatif dari segi agama dan suku. Sebab, tingkat penolakan terhadap calon gubernur non muslim atau dari suku Tionghoa menunjukan peningkatan dalam lima bulan terakhir.

"Akankah isu ini menumbangkan Ahok? Pemilih muslim yang tak ingin gubernur nonmuslim kini meningkat. Dari 40 persen di bulan Maret jadi 55 persen di September kemarin," lanjut Ardian.

Baca: Dikeroyok 2 Kubu, Ini Strategi Tim Pemenangan Ahok-Djarot 

LSI mencatat ada beberapa hal yang menyebabkan isu agama ini meningkat. Pertama, adanya isu penistaan agama akibat ucapan Ahok yang mengatakan bahwa pemilih banyak ditipu oleh orang yang menggunakan surat Al Maidah 51.

Kedua, adanya pertemuan tokoh-tokoh Islam yang menghasilkan kesimpulan agar tidak memilih calon non muslim. Ketiga, adanya himbauan dari Ketua MUI untuk memilih calon gubernur yang muslim.

Meski begitu, Ardian mengatakan proyeksi LSI itu bisa berubah. Perolehan suara pasangan petahana ini masih mungkin merangkak naik selama Ahok dapat memperkecil sentimen agama tersebut.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!