Ilustrasi: Peleburan bijih timah. (Foto: Antara)


KBR, Jakarta- Indonesian Smelter and Processing Association (ISPA),  menyebut investasi Indonesia akan rusak dengan kebijakan penguluran kewajiban pengolahan dan pemurnian mineral dalam negeri dan negara lain tidak akan pernah lagi percaya pada indonesia jika memiliki kebijakan yang berubah-ubah. Kata Ketua  ISPA, Raden Sukhyar, keinginan hilirisasi merupakan keinginan negara yang seharusnya tak lagi diingkari, dan harus didorong untuk produksi hasil murni.


"Sekarang kan investasi yang sudah berjalan itu kan sangat besar. Mereka (investor) itu kan orang yang patuh pada Undang-undang, lalu kok kenapa pemerintah ingin merusak Undang-Undang itu sendiri kan aneh banget gitu lho. Ada orang yang patuh datang, investor akan melakukan pengolahan pemurnian lalu di sisi lain kok pemerintah akan melakukan ekspor itu kan akan mengganggu investasi ngapain mereka datang ke Indonesia?" Papar Sukhyar kepada KBR, Senin (17/10/2016) 

Sukhyar melanjutkan, "nunggu aja di sana di negerinya bahan bakunya. Artinya apa? Kita menghidupi industri orang lain, yang punya kita mati. Itu nggak masuk akal menurut saya."

Sukhyar menambahkan, sejak  2014 nilai investasi Indonesia untuk pemurnian mencapai 3 miliar dolar dari 9 miliar dollar yang  komitmen. Sementara, pendapatan negara ekspor yang pernah terjadi seperti dari bahan mentah hanyalah 5-20 persen dari keseluruhan mineral.

"Lho kok kita membela yang kecil, harusnya yang 5 persen itu ditingkatkan nilai tambahnya gitu. Justru 5 persen ditingkatkan jadi ekspor kita lebih besar nilainya. Kalau kita lihat 5 persen itu, atau yang terbesar pernah tahun 2013 espor besar-besaran sampai 20 persen itu sekitar 2 Miliar Dolar jadi kecillah artinya mari kita tingkatkan nilainya," tegasnya. 


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!