Ilustrasi Orangutan di Tanjung Puting. Foto: Antara

KBR, Jakarta- Penggiat konservasi kawasan Tanjung Puting di Kalimantan Tengah menyesalkan kurangnya perhatian pemerintah daerah dalam proses konservasi kawasan Tanjung Puting. Aktivis Care for Tanjung Puting, Febriyan Hadi mengatakan, petugas dari Balai Taman Nasional Tanjung Puting selama ini hanya melakukan tugas administrasi.

Sementara itu, pemberian makan, rehabilitasi, dan tugas lainnya sepenuhnya dilakukan oleh para penggiat konservasi dan relawan organisasi Orangutan Foundation.

"Ada beberapa yang benar-benar kerja, maksudnya benar-benar peduli. Tapi sekali lagi, mereka bawahan kan. Mereka nggak bisa apa-apa tanpa yang di atas. Kalau yang di atas bilang enggak, ya enggak. Kalau yang di atas bilang iya, ya iya," kata Febri, Rabu(19/10).

Taman Nasional Tanjung Puting tahun-tahun sebelumnya menghadapi masalah pembalakan liar dan penambangan emas ilegal. Selain dilakukan oleh perusahaan, aktifitas ilegal itu juga dilakukan oleh masyarakat. Perlahan para relawan Care for Tandjung Puting mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kawasan habitat asli orangutan itu.

"Kalau di Afrika, ranger-rangernya boleh bawa senjata. Di sini kan tidak."

Tahun 2015 lalu, kawasan Tanjung Puting juga terkena dampak kebakaran hutan dan lahan. Bahkan area 800 meter dari titik feeding Camp Leakey (pusat rehabilitasi orang utan) juga ikut terbakar. Upaya pemadaman dilakukan oleh masyarakat, relawan, dan petugas Tanjung Puting.

Febri mengisahkan ketika itu mereka harus memperhatikan ketinggian api untuk melakukan upaya pemadaman. Jika api mencapai 3,5 meter, maka mereka akan menarik diri.

Saat itu masyarakat kecewa dengan sikap pemerintah daerah. Febri ingat setelah api padam, Bupati Kotawaringin Barat datang ke kawasan Tanjung Puting. Namun di belakangnya, tampak pengusaha-pengusaha kelapa sawit, pemilik lahan yang menjadi sumber kebakaran.

"Begitu melihat di belakang Pak Bupati itu pengusaha-pengusaha sawit, kami menolak untuk keluar dari hutan. (Apa tujuan mereka kesana?) Bilangnya memberikan bantuan. Logistik dan lain-lainlah."

Setelah itu, upaya konservasi dan rehabilitasi kawasan Tanjung Puting kembali mereka lanjutkan. Semua itu dilakukan secara swadaya. Beberapa waktu lalu, mereka menabung dan membeli 74 hektare tanah milik perusahaan kelapa sawit untuk dialihfungsikan menjadi kawasan konservasi. Tahun depan, Care for Tanjung Puting menargetkan penanaman pohon hingga 500 ribu bibit. Biaya pembelian bibit didapat dari iuran mereka dan hasil menjual kaus kepada para wisatawan.

Baca juga: Hotlin Ompusunggu : Dari Gigi, Untuk Konservasi

Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!