DPR: TNI Jangan Dulu Bicara Hak Politik

TNI belum berhasil menunjukan netralitas institusinya.

Rabu, 05 Okt 2016 12:36 WIB

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memimpin upacara peringatan HUT ke-71 TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Rabu (5/10). Foto: Antara


KBR, Jakarta- Anggota DPR Charles Honoris mengatakan pemberian hak politik bagi TNI saat ini tidak bisa dilakukan. Sebab, dia menilai TNI belum berhasil menunjukan netralitas institusinya. Charles menyebut masih ada sederet pekerjaan rumah TNI yang belum tuntas.

"Ini tentunya perlu dikaji kembali apakah memang hari ini masyarakat kita sudah cukup dewasa sehingga anggota TNI bisa diberikan hak politik. Saya rasa ini enggak salah. Tapi yang pertama harus dilakukan adalah menjamin netralitas TNI sebagai institusi. Karena jika TNI belum bisa menjadi tentara institusi yang profesional, sangat rawan untuk disalahgunakan bagi kepentingan politik tertentu,"ujar Charles di DPR, Rabu(5/10).

Sebelumnya, Panglima TNI Gatot Nurmantyo menyebut saat ini TNI tidak berbeda dengan masyarakat sipil. Pasalnya, TNI tidak memiliki hak politik.

Niatan ini dianggap oleh Charles terlalu buru-buru. Charles menyebut ada 30 MOU TNI dengan kementerian, BUMN, maupun swasta yang masih bermasalah. Salah satunya adalah pengerahan 55 ribu anggota TNI sebagai penyuluh pertanian. Program ini adalah hasil kerjasama TNI dengan Kementerian Pertanian.

"Apabila 55 ribu ini dijadikan kekuatan politik, ini bisa jadi signifikan. Kita tuntut TNI profesional dulu barulah bicara hak politik."

Charles meminta TNI fokus menjalankan fungsi utamanya yang diatur dalam undang-undang. Berdasarkan UU TNI, tentara ini dibentuk sebagai kekuatan perang.

"Mereka menyebut sudah tidak ada ancaman fisik. Tapi ini kan juga bicara diplomasi kita. Nilai tukar diplomasi kita." 


Editor: Malika

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi
  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial

2 Korban Kebakaran Sumur Minyak Mentah yang Dirawat di Medan Tewas

  • RS di Aceh Kewalahan Tangani Korban Ledakan Sumur Minyak Tradisional
  • Penyintas 1965, Sri Sulistyawati Tutup Usia
  • Gagal Cetak Gol, Cristiano Ronaldo Ukir Rekor Baru di Liga Champions

Anda berencana ke luar negeri? Ingin beli oleh-oleh, tapi takut kena pajak? Pada 1 Januari 2018, pemerintah menerbitkan regulasi baru untuk impor barang bawaan penumpang dan awak sarana pengangkut.