BI Catat Konsumsi Masyarakat Naik di Kuartal Ketiga 2016

"Kondisi konsumsi rumah tangga ini, lebih baik indeksnya dibanding kuartal kedua,"

Kamis, 06 Okt 2016 20:27 WIB

Ilustrasi (sumber: Antara)



KBR, Jakarta- Survei Bank Indonesia mencatat konsumsi masyarakat meningkat pada kuartal ketiga 2016. Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI Hendy Sulistiowati mengatakan, pada kuartal ketiga tahun ini, indeks keyakinan konsumen menunjukkan perbaikan, meski tak terlalu tajam.

Kata dia, situasi itu menjadi penanda yang baik pada perekonomian dalam negeri.

"Kalau kita lihat, per triwulannya, triwulan kedua itu angkanya 111,6, sedangkan di triwulan kedua, bulan Juli, Agustus, September, angkanya 112,5. Jadi sebetulnya ada perbaikan, kalau kita lihat data triwulan. Jadi sebenarnya, kondisi konsumsi rumah tangga ini, lebih baik indeksnya dibanding kuartal kedua," kata Hendy di kantornya, Kamis (06/10/16).

Hendy mengatakan, terdapat komponen pendorong konsumsi rumah tangga, utamanya dari sisi penghasilan masyarakat yang mayoritas menganggap cukup. Meski begitu, kata Hendy, ada pesimisme dari sisi ketersediaan lapangan pekerjaan dan ketepatan waktu pembelian barang tahan lama, seperti perlengkapan rumah tangga, furnitur, dan peralatan elektronik. Meski meningkat dari 94 pada kuartal kedua menjadi 95 pada kuartal ketiga, kata Hendy, situasi itu masih belum bagus karena berada di bawah 100.

Hendy berujar, hasil survei itu mencatat terjadi pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencapai 5,04 persen. Kata dia, dengan hasil survei indeks itu, BI memproyeksikan konsumsi rumah tangga pada kuartal keempat akan meningkat. Kata dia, konsumsi rumah tangga memiliki peran penting dalam perekonomian dalam negeri. Pasalnya, konsumsi rumah tangga memiliki porsi besar dalam produk domestik bruto, yakni mencapai 55,9 persen.

BI mengadakan survei ini untuk mengetahui arah perkembangan konsumsi rumah tangga, ekspektasi konsumen terhadap perkiraan inflasi ke depan, dan kondisi stabilitas sistem keuangan rumah tangga. Survei ini meneliti 4.600 responden, dari 18 kota pada 18 provinsi. Pemilihan kota mempertimbangkan peran konsumsi rumah tangganya terhadap PDB, serta keterwakilan wilayah.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.