Tol Banten-Banyuwangi Ditargetkan Terkoneksi Pada 2019

Kementerian PUPR menargetkan bisa menyelesaikan ruas tol Salatiga-Solo sepanjang 32 km sebelum memasuki mudik lebaran 2018. Selanjutnya ruas tol Solo-Probolinggo selesai 2018.

Selasa, 26 Sep 2017 11:08 WIB

Presiden Joko Widodo memperlihatkan kartu e-Toll usai meresmikan jalan tol Bawen-Salatiga di gerbang tol Salatiga, Jawa Tengah, Senin (25/9/2017). (Foto: ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho)

KBR, Salatiga – Presiden Joko Widodo meminta Menteri Pekerjaan Umum (PU) dan Menteri BUMN segera menyelesaikan ruas jalan tol tembus dari ujung barat Pulau Jawa (Banten) hingga ujung timur pulau Jawa di Banyuwangi. Ditargetkan jalan tol Banten hingga Banyuwangi bisa saling terhubung pada 2019 mendatang.

Presiden Jokowi berharap keberadaan jalan tol itu bisa menekan biaya logistik transportasi barang karena waktu tempuh distribusi barang semakin singkat dan cepat mencapai tujuan.

Saat ini, kata Jokowi, biaya logistik di Indonesia untuk transportasi barang masih 2,5 kali lipat lebih mahal dari Singapura dan Malaysia. Hal itu disebabkan karena banyak jalan bebas hambatan yang masih belum selesai. 

Padahal, kata Jokowi, saat Indonesia memiliki jalan tol Jagorawi pada 1977, negara-negara lain seperti Tiongkok, Singapura dan Malaysia justru meniru dan mencontoh manajemen serta kontruksi pembangunan jalan tol dari Indonesia.

"Negara Tiongkok yang awalnya meniru manajemen dan kostruksi tol Jagorawi kini sudah mampu membangun jalan tol sepanjang 4.000 hingga 5.000 kilometer dalam satu tahun. Tiga tahun lalu ruas tol di seluruh Indonesia hanya sepanjang 780 kilometer. Saya tanya target Menteri PU dan Menteri BUMN selama lima tahun, baru akan mampu membangun 1.200 kilometer. Selama lima tahun. Dan baru saja tadi saya bisik-bisik lagi, perkiraan 2019 akan mendapat tambahan kurang lebih 1.800 km. Artinya, kalau kita ngebut sebetulnya kita juga bisa," kata Presiden Jokowi di Salatiga, Jawa Tengah, Senin (25/9/2017). 

Baca juga:



Presiden Jokowi mengunjungi Salatiga untuk meresmikan jalan tol Semarang–Solo seksi III yang menghubungkan Bawen-Salatiga. Ruas tol Bawen–Salatiga secara resmi mulai dioperasikan pada Selasa (26/9/2017) pukul 00.00 WIB.

Jokowi mengatakan masalah yang kerap menghambat pembangunan jalan tol di Indonesia adalah soal pembebasan lahan. Karena itu, Jokowi menyarankan agar pembangunan tol Trans Jawa dikerjakan bersama-sama dengan melibatkan konsorsium BUMN, Jasa Marga, swasta dan pemerintah propinsi supaya masalah pembiayaan dan konstruksi bisa ditangani dengan cepat. 

"Berkali-kali saya sampaikan, kerjakan seperti pembangunan tol Bawen-Salatiga dengan melibatkan konsorsium. Kita negara besar jangan kalah dengan negara–negara tetangga. Sekarang kunci masalah pembebasan lahan sudah kita temukan. Kalau soal konstruksi, negara kita juga tidak kalah dengan negara lain," kata Jokowi.

Presiden Jokowi juga meminta agar masalah pembiayaan proyek jalan tol tidak hanya bergantung pada pinjaman bank. Tol Trans Jawa bisa mengambil solusi dengan cara menjual obligasi dengan batas waktu yang ditentukan, sehingga hasil penjualannya bisa digunakan untuk membangun jalan tol di tempat lain. 

"Jangan senang memiliki. Kalau tol sudah jadi, segera dijual dengan batas waktu yang ditentukan selama 10 atau 20 tahun, sehingga uangnya bisa digunakan untuk membangun lagi di daerah lain. Jual lagi, bangun lagi di pulau lain. Negara lain juga seperti itu. Kita tidak perlu memiliki, tapi bisa memanfaatkan untuk membangun tol di tempat lain agar infrastruktur bisa dengan cepat terselesaikan," kata Jokowi.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan ruas tol Semarang-Solo merupakan bagian dari Trans Jawa sepanjang 661 kilometer. Dia berharap tahun depan sudah mampu menyelesaikan ruas tol Salatiga-Solo sepanjang 32 km sebelum memasuki mudik lebaran 2018, dan bisa dioperasionalkan secara penuh setelah mudik lebaran. 

Setelah itu, proyek tol Trans Jawa dilanjutkan dengan menyelesaikan tol Solo-Ngawi-Kertosono-Surabaya-Probolinggi pada tahun 2018 dan ruas tol Probolinggo-Banyuwangi diharapkan selesai pada 2019.




Mengenai tarif tol Bawen–Salatiga, Basuki menyebutkan besarnya dihitung Rp1000 per kilometer, sehingga tarif untuk jarak 17,5 kilometer sebesar Rp17.500. Tarif tersebut dinilai terlalu mahal oleh masyarakat, namun Basuki berkilah angka tersebut disesuaikan dengan nilai investasi konstruksi dan harga tanah.

"Mahal atau murah itu relatif. Semua itu tergantung nilai investasi konstruksi dan tanah karena pembangunan tol ini adalah hasil tender yang melibatkan beberapa developer," kata Basuki.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Polisi Selidiki Penadah dan Penyuplai Hasil Pendulang Emas Ilegal di Freeport

  • Bappeda DKI: Anggaran Kunker DPRD Naik Karena Djarot
  • Presiden Minta Malaysia Impor Beras Dari Indonesia
  • Kejati Tahan 2 Tersangka Mark Up Alat Tangkap untuk Nelayan di Mandailing Natal

Guna mengembangkan dan mengapresiasi Organisasi Kepemudaan, Kementerian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan "Pemilihan Organisasi Kepemudaan Berprestasi 2017"