Masyarakat Adat Unjuk Gigi di GCF

COICA, sebuah organisasi yang mengkoordinir masyarakat adat dari 9 negara di lembah Amazon juga mengharapkan GCF tidak hanya menjadi forum tukar pikiran, namun aksi nyata untuk melindungi  hutan

Selasa, 26 Sep 2017 09:54 WIB

Masyarakat adat  dan komunitas lokal mendapat panggung dalam pertemuan tahunan para gubernur anggota GCF (Governors’ Climate and Forest Task Force – Satuan Tugas Gubernur untuk Hutan dan Perubahan Iklim) 25-28 September.  Para gubernur baru menyadari hal tersebut, setelah Deklarasi Rio Branco pada tahun 2014 lalu. Data studi yang dilakukan oleh Earth Innovation Institute (2014), menyebutkan wilayah adat di seluruh bentang Amazonia sendiri telah berkontribusi sebesar 32.8 % (28.247 MtC) dari total karbon di atas permukaan tanah di wilayah itu. Sementara data gabungan berbagai negara hutan tropis (Indonesia, Democratic Republic of Congo, Amerika Tengah, Cekungan Amazon) menunjukkan 20 % karbon hutan berada di wilayah adat.

Sebelumnya, sejumlah putaran diskusi persiapan pra pertemuan tahunan GCF antara organisasi masyarakat adat di masing-masing negara dan provinsi anggota telah berlangsung di Balikpapan. Dalam pertemuan tingkat global di Klamath California 21-24 Agustus 2017, organisasi masyarakat adat telah menuangkan usulan yang disebut “Klamath Letter”. Surat berisi prinsip dan usulan pekerjaan rumah untuk pemerintahan sub-nasional, nasional dan global.

Rukka Sombolongi, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), mengutarakan agar dialog dengan masyarakat adat tidak hanya berhenti pada upaya mendorong pilar atau prinsip, tetapi mengupayakan suara masyarakat dalam kerangka kerja di tingkat sub-nasional, dan berdampak nyata terhadap masyarakat adat. “Kami telah memiliki rencana aksi yang kongkrit dan akan disampaikan kepada para gubernur anggota GCF”, kata Rukka. Alfonso Chavez dari COICA (Coordinadora de las Organizaciones Indígenas de la Cuenca), sebuah organisasi yang mengkoordinir masyarakat adat dari 9 negara di lembah Amazon juga mengharapkan GCF tidak hanya menjadi forum tukar pikiran, namun berbuah aksi nyata untuk melindungi  hutan dan masyarakat adat di berbagai belahan dunia.

Editor: Ari Swandari, Paul M Nuh

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

Belum Temukan Pelaku Penyiraman Novel, Polisi Klaim Sudah Banyak Kemajuan

  • Dialog Jakarta Papua, Pemerintah Diminta Tak Abaikan Suara ULMWP
  • Dibanding Pekan Lalu, Pasien Difteri di RSPI Meningkat Nyaris Tiga Kali Lipat
  • 7 Narapidana Kabur Usai Potong Teralis Besi Lapas Binjai

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi