Konflik Rohingya, Pemerintah Besok Kirim Bantuan Langsung ke Rakhine

"Besok kita loading butuh waktu 2-4 jam. Paling lambat jam 10.00 besok barang sudah terkumpul, lalu pukul 14.00 WIB pesawat berangkat"

Selasa, 19 Sep 2017 14:20 WIB

Bantuan untuk Rohingya. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Pemerintah   mengklaim sudah menerima lampu hijau untuk mengirimkan bantuan ke Rakhine, Myanmar. Kepala  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  Willem Rampangilei mengatakan pesawat pengirim akan diberangkatkan ke bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh, besok Rabu (20/9).

Dia  berharap dalam beberapa hari ini, pemerintah Myanmar akan mengumumkan pemberian izin secara resmi.

"TNI AU sudah siap pesawatnya berangkat. barang-barang kita geser, kita pool di sini. Besok kita loading butuh waktu 2-4 jam. Paling lambat jam 10.00 besok barang sudah terkumpul, lalu pukul 14.00 WIB pesawat berangkat ke Sultan Iskandar Muda, Aceh," kata Wilem di Halim Perdana Kusuma, Selasa (19/9).

Bantuan yang dikirimkan berupa makanan siap saji, tenda, penjernih air, generator set, sarung, selimut, peralatan kesehatan, dan obat-obatan. Wilem mengatakan akan ada pesawat Hercules berkapasitas masing-masing 10 ton yang akan diberangkatkan.

"Dari Kementerian Kesehatan sudah disiapkan 5 ton makanan siap saji untuk balita dan ibu hamil. Kurang-lebih juga ada 1 ton obat-obatan. Kita akan mengirimkan 20 tenda pengungsi dan makanan siap saji."

Meski begitu, menurut Wilem kemungkinan besar tim pengirim bantuan tetap tidak akan bisa masuk ke kawasan Rakhine. Pemerintah mengandalkan kerjasama dengan Palang Merah Internasional untuk memastikan distribusi bantuan sampai kepada para pengungsi yang terdampak konflik Myanmar. Selain itu, sudah ada tim yang terdiri dari Kementerian Luar Negeri, TNI, serta BNPB yang dikirimkan ke Myanmar.

Willem membantah bantuan dari Indonesia itu sebagai bentuk pencitraan pemerintah. Dia menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia sudah sering membantu negara-negara selain Myanmar.

"Indonesia berikan bantuan bukan hanya sekali ini. Bukan hanya Myanmar dan  Bangladesh. Sebelumnya kita juga beri bantuan di Nepal, Filipina, Jepang, Haiti, dan Korea Utara. Jadi ini betul-betul kegiatan kemanusiaan."

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

Belum Temukan Pelaku Penyiraman Novel, Polisi Klaim Sudah Banyak Kemajuan

  • Dialog Jakarta Papua, Pemerintah Diminta Tak Abaikan Suara ULMWP
  • Dibanding Pekan Lalu, Pasien Difteri di RSPI Meningkat Nyaris Tiga Kali Lipat
  • 7 Narapidana Kabur Usai Potong Teralis Besi Lapas Binjai

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi