Kapolri Minta Perseteruan Novel-Aris Diselesaikan di Internal KPK

"Saya yakin ada win win solution, yang tidak akan mempengaruhi hubungan instansi. Dan kedua figur ini bisa diselesaikan dengan cara lebih baik dan elegan,"

Selasa, 19 Sep 2017 13:52 WIB

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (kiri) bersama dengan Ketua KPK Agus Rahardjo (kanan) memberikan keterangan kepada wartawan seusai menghadiri upacara serah terima jabatan pejabat Polri di Jakarta, Selasa (19/9). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta –Kapolri Tito Karnavian berharap kasus perseteruan Novel Baswedan dan Aris Budiman bisa selesai di internal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia pun menyerahkan kasus tersebut kepada KPK agar bisa dilakukan mediasi.

Tito mengatakan, Novel dan Aris adalah bagian dari keluarga besar Polri yang berada di KPK. Meski Novel tidak lagi berada di bawah Kepolisian, ia berharap KPK bisa menangani perselisihan antara keduanya.

"Harusnya mereka saling mengisi. Mereka di bawah KPK, sehingga bapaknya di KPK. Saya berharap ini bisa selesai di tingkat KPK," katanya usai melakulan serah terima jabatan petinggi Polri di Aula Rupatama, Selasa (19/09/17)

Tito menambahkan, karena sudah ada laporan ke polisi atas sangkaan pencemaran nama baik  yang dilakukan Aris dan Erwanto Kurniadi (eks penyidik KPK, kini Wadir Tipikor Bareskrim), Tito berharap ada solusi lain agar masalah itu tidak berlanjut.

"Saya yakin ada win win solution, yang tidak akan mempengaruhi hubungan instansi. Dan kedua figur ini bisa diselesaikan dengan cara lebih baik dan elegan," jelasnya.

Sebelumnya, Ketua KPK Agus Rahardjo juga meminta agar kasus ini bisa diselesaikan di internal KPK. Menurutnya saat ini sedang dilakukan pengawas dan sedang menunggu hasilnya dalam 2 minggu kedepan.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Tito Karnavian meminta tidak ada benturan lagi antara Polri dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  Permintaan itu ia sampaikan saat mengundang pemimpin KPK, dalam acara serah terima jabatan sejumlah petinggi Polri.

Tito mengatakan pemasalahan yang terjadi antara Polri dan KPK cukup menyita perhatian. Padahal, kata Tito, antarpimpinan Polri dan KPK merasa tidak memiliki masalah yang mengakibatkan keduanya berbenturan satu sama lain.

"Kita tidak ingin ada benturan, apalagi dipengaruhi adu domba yang lain, dari pihak yang mungkin senang Polri dan KPK tidak solid. Hubungan kami antara pimpinan sampai hari ini sangat baik sekali," kata Tito di Aula Rupatama, Mabes Polri, Selasa (19/9/2017).

Mengenai konflik antara Brigjen Pol Aris Budiman yang kini menjadi Direktur Penyidikan KPK serta penyidik KPK Novel Baswedan, Tito mengatakan ingin mencari solusi yang terbaik untuk mencairkan suasana.

"Kami berusaha mencarikan solusi yang saling menguntungkan, win win solution," kata Tito.

Pernyataan serupa juga disampaikan Ketua KPK Agus Rahardjo. Agus mengatakan internal KPK saat ini sedang bekerja agar hubungan Aris Budiman dan Novel Baswedan segera membaik dan bisa menjalani mediasi.

"Hari ini pengawas internal KPM sedang bekerja. Kami menunggu, kami beri waktu dua minggu kepada mereka. Kami harapkan akhir minggu ini ada hasilnya. Nanti dirundingkan dengan Kapolri bagaimana hasil pengawas internal. Harapan saya, win win solution bisa ditempuh," kata Agus.

Penyidik KPK Novel Baswedan terus dirundung masalah. Setelah menjadi sasaran teror serangan air keras hingga membuat matanya rusak parah, Novel terancam jadi tersangka atas tuduhan pencemaran nama baik atasannya sendiri, Direktur Penyidikan KPK Aris Budiman.

Aris yang berpangkat Brigjen Polisi itu melaporkan Novel atas tuduhan pencemaran nama baik dan pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Selain itu, Novel juga dilaporkan petinggi Polri lainnya, yaitu Wakil Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Mabes Polri Erwanto ke Polda Metro Jaya.

Baca juga:

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Paripurna DPR Tetapkan Tujuh Anggota Komnas HAM

  • Polisi Masih Dalami Politikus Penyandang Dana Saracen
  • DKI Ubah Trayek Angkutan Umum demi Program OK-OTRIP
  • Tidak Ada Logo Palu Arit di Spanduk Yang Digunakan Warga Demo Tolak Tambang Emas