Jokowi Minta Rektor Hentikan infiltrasi ideologi Radikalisme dan Terorisme

Kata Jakowi infiltrasi ideologi radikalisme dan terorisme hendak mengganti Pancasila

Selasa, 26 Sep 2017 21:34 WIB

Jokowi bersama rektor se-Indonesia. (Foto: Biro Pers)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo menyatakan infiltrasi ideologi yang ingin menggantikan Pancasila telah terjadi di Indonesia. Ideologi yang dimaksud adalah terorisme dan radikalisme. Kata dia,  Ideologi ini memanfaatkan era keterbukaan, menggunakan pendekatan baru dengan cara kekinian.

Kepala Negara mengingatkan semua pihak untuk waspada, sebab telah banyak yang beralih menganut ideologi ini. Hal ini disampaikan Jokowi pada penutupan Pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi se-Indonesia di Bali.

"Karena keterbukaan yang tidak bisa kita hindari, sehingga media sosial begitu sangat terbukanya, begitu sangat bebasnya, sehingga infiltrasi itu sering tidak kita sadari dan mereka muncul dengan cara-cara baru, dengan metode-metode baru, halus, lembut, dan sering tidak pernah kita sadari. Sangat halus, sangat kekinian, dengan pendekatan-pendekatan yang akrab, dan sering menyentuh hati. Banyak dari kita yang terbuai oleh itu. Sehingga kita lupa bahwa kita telah memiliki Pancasila," kata Jokowi di Peninsula Island, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (26/9/2017) sebagaimana rilis dari Biro Pers Istana Kepresidenan.

Di depan rektor perguruan tinggi se-Indonesia, Jokowi meminta kampus aktif menangkal penyebaran ideologi yang anti-Pancasila dan anti-NKRI. Ia mewanti-wanti jangan sampai kampus justru menjadi lahan penyebaran ideologi itu.

"Apabila kita semuanya cinta Indonesia, masih cinta NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, kita harus hentikan infiltrasi ideologi radikalisme, terorisme di seluruh perguruan tinggi yang ada di seluruh tanah air kita," tuturnya.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.