Dicopot dari Pemimpin Pansus Angket KPK, Masinton: Biasa

"Ketika saya menjadi pimpinan Pansus yang saya sampaikan juga biasa. Jadi sekarang menjadi anggota ya tetap biasa."

Rabu, 20 Sep 2017 20:56 WIB

Anggota DPR, Masinton Pasaribu.

KBR, Jakarta- Anggota Pansus Hak Angket DPR terhadap KPK, Masinton Pasaribu menyatakan, penggantian dirinya sebagai Wakil Ketua Pansus merupakan rotasi biasa di Fraksi PDIP. Ia mengatakan, tidak ada alasan khusus mengapa dia digantikan  Eddy Wijaya Kusuma  di kursi pimpinan Pansus.

Masinton mengatakan, penggantian kursi pemimpin Pansus oleh Fraksi PDIP bukan karena pernyataan-pernyataannya yang dinilai sebagian pihak terlalu keras. Ia mengklaim pernyataannya selama ini biasa saja.

"Ketika saya anggota kan suara saya biasa. Yang saya sampaikan juga biasa. Ketika saya menjadi pimpinan Pansus yang saya sampaikan juga biasa. Jadi sekarang menjadi anggota ya tetap biasa. Jadi ini hal yang biasa kalau di Fraksi," kata Masinton di Hotel Santika Premiere Jakarta, Rabu (20/09/17).

Masinton mengklaim tidak ada masalah yang mengakibatkan Fraksi PDIP mengganti posisinya. Ia mengatakan, rotasi pemimpin Pansus ini tak akan berdampak terhadap kinerja Pansus.

"Ketika saya menggantikan Ibu Risa juga bukan karena ada masalah. Tidak ada itu. Memang tadi rotasi yang biasa," ujarnya.

Sebelumnya  Fraksi PDI Perjuangan mengganti posisi Masinton Pasaribu sebagai Wakil Ketua Panitia Khusus Hak Angket DPR terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Posisi Masinton digantikan oleh anggota Pansus  Eddy Wijaya Kusuma.

Sekretaris Fraksi PDIP, Bambang Wuryanto mengatakan, tak ada alasan khusus dalam pergantian posisi pimpinan Pansus Hak Angket DPR terhadap KPK dari Fraksi PDIP. Menurutnya, ini hanya pergantian biasa seperti saat posisi Risa Mariska sebagai Wakil Ketua Pansus digantikan oleh Masinton.

"Ya biasa saja. Penyegaran sama seperti saat Masinton mengganti Risa," kata Bambang melalui pesan WhatsApp kepada KBR, Rabu (20/09/17).

Surat perihal perubahan penugasan Pimpinan Pansus yang dikirim tanggal 19 September 2017 ini ditantangani Ketua Fraksi PDIP, Utut Adianto. Pergantian pimpinan ini mulai berlaku sejak 20 September. Masa kerja Pansus akan berakhir pada 28 September mendatang.

Psca menggantikan Masinton, Politikus PDI Perjuangan, Eddy Kusuma Wijaya menyatakan, fokus kerja pansus hanya tinggal merampungkan laporan yang sifatnya administratif. Sehingga tugas tersebut, klaim Eddy, lebih cocok dikerjakan olehnya ketimbang Masinton.

"Sekarang ini kan sudah hampir rampung dan tinggal membuat laporan. Jadi tinggal merampungkan bagian administrasinya saja. Saya yang akan bantu-bantu Ketua. (Ada pesanan khusus dari fraksi?) Tidak ada. Sekarang ini kan kami sudah tahap pengumpulan data dari hasil temuan yang kita dapat. Dan itu kami evaluasi dan analisa dan akan dirumuskan," ujarnya saat dihubungi KBR melalui sambungan telepon, Rabu (20/9).

Ia menambahkan, karakter Masinton--yang dianggap sejumlah kalangan terlalu vokal terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi--bukan menjadi alasan pergantian atau rotasi. Justru kata Eddy, karakter yang dimiliki Masinton diperlukan untuk memberi evaluasi terhadap lembaga antirasuah tersebut.

"Kalau menurut saya karakter Pak Masinton itu bukannya vokal. Tapi memang keterbukaan," tuturnya.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi