BNPB: Banyak Hoax soal Kondisi Gunung Agung, Tetap Tenang

"Gunung Agung belum meletus dan tidak mengeluarkan hujan abu. Analisis dari pantauan satelit Himawari dari BMKG juga menunjukkan bahwa belum terdeteksi adanya hujan abu di sekitar Gunung Agung."

Selasa, 19 Sep 2017 10:12 WIB

Warga mengamati aktivitas Gunung Agung di Pos Pemantauan Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa (19/9/2017). (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana)

KBR, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat tidak mudah percaya dengan beredarnya kabar di media sosial mengenai kondisi terkini Gunung Agung, di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. 

Juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan saat ini beredar informasi di media sosial, bahwa Gunung Agung sudah mengeluarkan hujan abu disertai foto-foto. Informasi itu tidak benar, karena hingga kini Gunung Agung belum meletus. 

"Gunung Agung belum meletus dan tidak mengeluarkan hujan abu. Kemarin terjadi gempa 2,8 SR kedalaman 10 km dengan pusat gempa di sekitar Gunung Agung. Masyarakat merasakan guncangan gempa dengan intensitas ringan. Analisis dari pantauan satelit Himawari dari BMKG juga menunjukkan bahwa belum terdeteksi adanya hujan abu di sekitar Gunung Agung," kata Sutopo dalam rilis yang diterima KBR, Selasa (19/9/2017).

Sutopo menyatakan kemungkinan foto-foto itu merekam material abu dari kebakaran hutan dan lahan yang memang terjadi di sekitar Gunung Agung. Hasil analisis satelit Aqua dan Terra dari Lapan memang menunjukkan ada tiga titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan di sekitar Kubu Kabupaten Karangasem di sebelah utara-timur laut kawah Gunung Agung dalam 24 jam terakhir.

"Laporan dari petugas di lapangan masih berlangsung kebakaran hutan dan lahan hingga pagi ini di sekitar Gunung Agung. Kemungkinan abu itu dari material lahan yang terbakar ini terbawa oleh angin dan jatuh ke permukaan," kata Sutopo.

Informasi hujan abu sebelumnya muncul di kawasan Pempatan Kecamatan Rendang dan Desa Sebudi Kecamatan Selat. 

Mengenai kondisi terkini Gunung Agung, Sutopo menjelaskan, Pos Pengamatan Gunung Agung melaporkan pada Selasa (19/9/2017) pagi ini terjadi 108 gempa vulkanik dangkal dengan durasi antara 10 hingga 30 detik, dan gempa tektonik lokal sebanyak 3 kali dengan durasi 30-35 detik. 

Pos Pengamatan juga bisa melihat jelas secara visual kawah Gunung Agung dan tidak ada asap keluar dari kawah itu. Berdasarkan laporan dari PVMBG dan pantuan visual dari Pos Pengamatan Gunung  Agung, belum terjadi hujan abu. 

Pos Pengamatan memang mendeteksi anomali suhu di kawah akibat aktivitas Gunung Agung. Namun tidak ada embusan abu dan sebaran abu yang keluar dari kawah.  

"Jadi, masyarakat dihimbau untuk tenang. Jangan terpancing isu-isu menyesatkan. Saat ini banyak beredar hoax dan informasi yang menyesatkan sehingga menimbulkan keresahan. Sebarkan fakta dan informasi yang benar," kata Sutopo.

Warga bersiap mengungsi mengantisipasi letusan Gunung Agung di Klungkung, Bali, Senin (18/9/2017). (Foto: KBR/Yulius Martoni)

Status Siaga

Sejak Senin (18/9/2017) malam pukul 21.00 WITA, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Agung di Kabupaten Karangasem Bali dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III). 

BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus melakukan persiapan menghadapi kemungkinan erupsi Gunung Agung, termasuk mengevakuasi warga yang tinggal di sekitar lereng gunung berapi tersebut.

Pada Senin (18/9/2017) malam sekitar pukul 19.00 WITA, sempat terjadi erupsi dan terlihat percikan api dan asap solfatara dari dasar kawah utama setinggi sekitar 50 meter dari bibir kawah. Tingkat kegempaan menunjukkan peningkatan. PVMBG menyatakan tingkat probabilitas atau kemungkinan letusan (erupsi) Gunung Agung meningkat.

Gunung Agung di Bali terakhir kali meletus pada 12 Maret 1963 dengan letusan skala VEI 5 dengan tinggi kolom erupsi mencapai delapan hingga 10 kilometer di atas puncak Gunung Agung. Letusan skala VEI 5 merupakan skala erupsi yang sangat besar. Saat itu letusan Gunung Agung menewaskan sekitar 1.100 jiwa, yang sebagian terkena aliran lahar.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali Dewa Made Indra menyatakan telah melakukan upaya maksimal untuk menghadapi erupsi Gunung Agung.

"Untuk warga yang ada di sekitar lereng gunung, kami tetap mengimbau agar mengikuti arahan dari pemerintah. Cari informasi dari pemerintah dan tentu pemerintah juga akan memberikan informasi dan sosialisasi kepada masyarakat sesuai dengan perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Agung," kata Dewa Made Indra. 

Dewa Made Indra meminta warga di sekitar gunung Agung tidak beraktivitas dalam radius enam kilometer dari kawah puncak. 

Sedangkan perluasan sektoral dari arah utara, selatan dan barat daya yang menjadi daerah potensi bahaya utama ada di radius 7,5 kilometer. 

Sejumlah warga sebelumnya sudah bersiap mengungsi. Sebagian warga yang berasal dari sekitar Pura Besakih mulai berpindah ke Desa Menanga, Kecamatan Rendang. Sedagkan sekitar 35 orang warga Banjar Lebih, Desa Sebudi, Kecamatan Selat Kabupaten Klungkung juga mulai mengungsi ke kantor Polres Klungung karena khawatir dengan gempa vulkanik. BNPB mencatat sudah ada 44 orang yang mengungsi secara mandiri di Kabupaten Klungkung. 

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi