Walter

Walter "Robby" Robinson dari tim Spotlight, The Boston Globe, memberikan keynote address di konferensi Uncovering Asia (Foto: GIJN)

KBR, Kathmandu – Bagi 370 jurnalis yang hadir di The Second Asian Investigative Journalism Conference “Uncovering Asia” di Kathmandu, Nepal, ini adalah puncak acara yang ditunggu-tunggu: keynote address dari Walter ‘Robby’ Robinson.

Walter Robinson saat ini adalah editor-at-large di The Boston Globe. Robby memimpin tim Spotlight yang membongkar skandal pelecehan seksual oleh pastor Gereja Katolik di Boston. Liputan itu memenangkan medali emas Pulitzer pada tahun 2003. Kerja keras tim Spotlight dalam mengungkap kasus ini diangkat ke layar lebar lewat sutradara Tom McCarthy. Film “Spotlight” memenangkan The Academy Award 2016 untuk kategori film terbaik.

Dalam keynote address-nya, Robby memberikan penghormatan kepada Martha Mendoza dan Esther Htusan dari Associated Press yang memenangkan Pulitzer tahun 2016 untuk investigasi industri perikanan di Asia Tenggara yang berhasil membebaskan dua ribuan budak. “Bertemu mereka, juga bertemu kalian semua di sini, membuat perjalanan tujuh ribu kilometer yang saya tempuh menjadi sangat berarti.”

Spotlight

Robby bercerita, karirnya di Boston Globe dimulai 40 tahun lalu ketika ia magang di sana. Tapi gairah pertamanya akan jurnalisme, menurut Robby, dimulai ketika ia berusia 11 tahun. Saat itu, ia menjadi loper koran Boston Globe dan selalu membaca koran itu sebelum mengantarkannya kepada pelanggan. “Membaca berita membuat saya berdaya, saya merasa jadi orang pertama yang tahu apa yang terjadi,” tutur Robby.

Ia juga menceritakan kembali kisah di balik layar dari liputan tim Spotlight untuk kasus pelecehan seksual yang dilakukan pastor. 

Saat itu Boston Globe mendapat editor baru, Marty Baron. “Dia minta Spotlight melakukan investigasi terhadap satu pastor yang digugat oleh 84 korban. Tugasnya hanya satu: cari tahu apakah kardinal tahu soal pelecehan seksual. Itu saja. Andai dulu kami hanya melakukan itu, saya pasti ada di rumah sekarang dan kalian mendapatkan pembicara yang lebih bagus,” kata Robby yang langsung disambut tawa hadirin di ruangan ini.

“Kami langsung mulai investigasi karena tidak mau mengecewakan bos baru,” lanjut Robby. 

Tim Spotlight lantas melakukan pendekatan ‘vacuum cleaner’: bertanya pada siapa pun yang mungkin tahu informasi apa pun soal pelecehan seksual. Dari situlah diketahui kalau ada 249 pastor yang melakukan pelecehan seksual. Jumlah itu artinya sekitar 10% dari total jumlah pastor yang selama lebih 50 tahun melecehkan anak-anak di Boston.

“Saya sekarang yakin kalau rasa takut kepada atasan adalah salah satu dorongan paling mendasar di jurnalisme,” kata Robby yang lagi-lagi disambut gelak tawa hadirin.


Membuat berdaya

Film Spotlight pertama kali ditayangkan di Amerika Serikat sejak November 2015. Sejak itu, Robby dan teman-temannya dari tim Spotlight mendapatkan banyak email.

“Email kami langsung dipenuhi pesan dari korban di seluruh dunia. Ada yang dari Afrika Selatan, Perancis, Korea Selatan, India sampai Australia – dan itu hanya sebagian. Saya juga dapat email dari seorang laki-laki Iran berusia 22 tahun yang diperkosa oleh mullah-nya saat ia berusia 15 tahun,” kata Robby.

Bagi Robby, liputan skandal pelecehan seksual ini menggambarkan banyak hal. Salah satunya adalah karena cerita ini sebetulnya sudah ada di depan mata mereka sejak lama. 

“Untuk waktu yang sangat lama, Gereja Katolik menjadi institusi yang sangat ikonik dan berkuasa. Karena itu pula, wartawan di Boston, dan tempat-tempat lain, tidak pernah menanyakan pertanyaan keras kepada mereka karena itu tidak biasa terjadi. Pertahanan kita melemah dan kita mulai kehilangan pertanda.”

Begitu liputan Spotlight dipublikasikan, protes bermunculan terhadap Gereja Katolik. “Tapi tidak ada satu pun protes kepada kami. Sebab tidak ada gunanya menyalahkan kami sebagai pewarta jika pesan yang disampaikan sangat mengerikan,” kata Robby.

Ketika ditanya, apakah masih yakin dengan masa depan jurnalisme investigas, begini jawaban Robby,"Setelah tiga hari bersama kalian semua jurnalis investigasi dari seluruh dunia di sini, saya rasa masa depan jurnalisme investigasi sangat baik."


Peserta Uncovering Asia 2016 yang menghadiri keynote address Walter Robinson (Foto: Twitter Torben Stephan)

Di hari pertama konferensi “Uncovering Asia”, KBR berbincang dengan Robby tentang tim Spotlight, liputan skandal pelecehan seksual sampai masa depan jurnalisme investigasi di era digital.

Bagaimana awal mula kerja tim Spotlight untuk kasus pelecehan seksual ini?

Kami kedatangan editor baru yang minta kami untuk memeriksa satu pastor. Karena kami takut pada editor baru, dan kami tidak mau mengecewakan editor baru itu, kami lantas menelfon siapa pun yang kami tahu soal pelecehan seksual itu. Saya ingat bilang kepada istri saya, sepertinya ada 10 pastor dan gereja merahasiakan ini. Reaksi dia: ya ampun, ini akan jadi cerita yang sangat bagus!

Begitu kami mulai wawancara korban, kami tahu apa hal buruk yang dilakukan gereja terkait pelecehan seksual. Dan gereja membiarkan itu dengan memindahkan pastor yang bermasalah. Kami jadi sangat marah. Kami terdorong untuk menyelesaikan cerita ini. Kami bekerja 6 hari seminggu selama berbulan-bulan untuk menyelesaikan liputan ini.

Anda pun dulu sempat jadi putra altar (altar boy) di gereja…

Ya. Saya merasa beruntung karena tidak ada pastor yang melecehkan saya. Kita semua saat itu dididik secara Katolik. Jadi kami tahu itu seperti apa hal buruk yang dilakukan pastor yang bisa saja terjadi pada kami.

Apakah sampai saat ini masih terjadi pelecehan seperti itu?

Secara budaya, belum banyak perubahan. Di banyak negara lain, juga tidak banyak yang sudah dilakukan untuk mengubah budaya ini. Di beberapa negara misalnya, ada banyak pastor yang melecehkan anak-anak, lantas dipindah ke paroki lain. Paus saat ini berusaha mencoba mengubah gereja, tapi ada banyak tentangan dari cardinal. Ini seperti sebuah negara, di mana ada orang yang minta perubahan, tapi ada juga yang tidak mau perubahan karena ingin semua seperti biasanya.

Saya kira akan butuh satu generasi lagi untuk ada perubahan.

Di Amerika Serikat ada mandate reporting law yang mewajibkan guru, pekerja sosial untuk melaporkan jika terjadi kasus pelecehan atau penelantaran anak. Apakah ini perubahan yang terjadi setelah liputan Spotlight?

Aturan itu sudah ada sejak lama, mewajibkan guru, pekerja sosial, dokter dan perawat untuk melaporkan jika mereka mengetahui ada kasus pelecehan atau penelantaran anak. Mereka wajib lapor atau bakal kena sanksi hukum.

Yang kami tidak tahu selama ini adalah bahwa sepanjang tahun 1990-an, ada perubahan aturan yang diajukan setiap tahun di Massachusetts untuk menyertakan pastor Katolik sampai rabbi Yahudi dalam aturan tersebut. Aturan ini selalu didukung oleh rabbi, tapi digagalkan oleh Gereja Katolik. Alasannya, seperti yang kami tahu sekarang, adalah untuk menutupi kejahatan pelecehan seksual yang selama ini terjadi.

Setelah laporan Spotlight dipublikasikan tahun 2002, tiba-tiba aturan yang selama ini ‘mati’, tiba-tiba seperti bangkit dari kubur dan akhirnya ditandatangani gubernur negara bagian. Andai ini sudah jadi aturan hukum sejak 10 tahun lalu, semua kardinal itu bisa masuk penjara.

Beberapa orang menganggap film Spotlight adalah glorifikasi terhadap kejayaan media cetak. Sekarang zaman bergeser ke digital. Bagaimana Anda melihat jurnalisme investigasi di dunia digital?

Menurut saya justru bagus. Jurnalisme investigasi membutuhkan akses terhadap informasi. Informasi yang dulu diperoleh berbulan-bulan, sekarang bisa didapat dalam beberapa jam saja. Ada lebih banyak cerita yang bisa dilakukan.

Misalnya tahun 2006 lalu, ada kandidat politik di Massachusetts. Saya cari informasi soal dia di internet. Dalam waktu 30 menit, saya bisa tahu kalau dia belum bayar pajak. Jika liputan ini saya lakukan 10 tahun lalu, maka saya butuh dua hari untuk mencari data soal ini. Dan mungkin saya tidak akan lakukan liputan ini karena kesulitan data – kecuali ada whistle blower. Sekarang, hanya berbekal rasa ingin tahu, saya bisa dapat informasi yang akhirnya mengakhiri proses kandidat tersebut di bidang politik.  

Secara bisnis, jurnalisme investigasi juga sangat baik. Dari berbagai survei pembaca, hal yang paling penting bagi publik adalah liputan investigasi. Atau liputan yang membuat pejabat publik lebih akuntabel. Jadi apa yang kita kerjakan ini adalah sesuatu yang penting. Kita sebagai jurnalis tahu itu.

Satu lagi, hal yang bagus dari film Spotlight ini adalah karena dia memicu diskusi di publik soal pers. Banyak yang bilang ‘tidak suka pers’, tapi sesungguhnya ini adalah hal yang sangat baik dan penting. Kita harus bisa bedakan liputan investigasi dengan apa yang ada di Fox Media.

Jika akses data bukan lagi tantangan, lantas apa tantangan melakukan investigasi di era digital ini?

Tantangan terbesar, bahkan dengan data sekalipun, tidak ada cerita yang datang begitu saja kepada Anda. Anda harus mencari cerita itu. Apa yang penting 30 tahun lalu, 20 tahun lalu, 10 tahun lalu dan sekarang masih sama: membuat orang bicara apa yang terjadi. Kita bisa punya data apa pun yang ada di dunia, tapi kita tetap butuh suara orang – sebab itu yang membuat cerita jadi punya kekuatan dan dampak emosional. Cerita semacam itulah yang membawa perubahan, jadi publik bisa tahu apa yang terjadi pada mereka.

Dan yang paling berat dari pekerjaan sebagai jurnalis adalah mendatangi seseorang yang Anda tidak kenal dan memulai percakapan – apalagi kalau kita mengajukan pertanyaan yang berat.

Saat ini saya juga mengajar jurnalisme. Dan hal yang paling mendasar yang harus dikuasai jurnalis adalah wawancara dengan baik. Membuat orang bicara adalah segalanya: bagaimana mengajukan pertanyaan, mencari pertanyaan yang tepat, dengan urutan seperti apa, kepada siapa, kapan, siapa yang diwawancara lebih dahulu.

Bagaimana cara Anda mencari ide liputan investigasi?

Saya punya beberapa cara untuk menemukan ide liputan. Saya mainkan insting saya. Yang paling utama, reporter jangan mencopot ‘topi reporter’ begitu selesai kerja. Kita pulang ke rumah, mencopot topi reporter, lantas kita kehilangan pertanda. Hal lain lagi adalah menjaga keinginan untuk membongkar sesuatu.

Kadang cerita terbaik adalah hal-hal yang ada di depan mata kita. Misalnya di Amerika Serikat ini ada banyak sekali tuna wisma. Mereka banyak yang meninggal di tengah musim dingin karena kedinginan. Ini sesuatu yang mesti bisa dilihat oleh reporter – kenapa ini terjadi? Siapa yang harus bertanggung jawab? Mengapa bisa ada orang yang mati kedinginan sementara di saat yang sama ada orang yang punya jet pribadi?

Ada pesan untuk jurnalis di Asia seperti kami?

Saya tak bisa mengungkapkan betapa saya mengagumi karya kalian. Kondisi kalian liputan jauh lebih sulit dibandingkan saya dan jurnalis Amerika lainnya. Saya tidak takut pada hidup saya, saya tidak takut kebebasan berekspresi saya terancam jika melakukan liputan investigasi. Tapi kalian, iya. Kalian mengambil begitu banyak risiko dan karena itu saya tahu kalau kalian peduli.

Inilah pentingnya jurnalisme bagi publik – untuk perbaikan masyarakat, untuk mengakhiri ketimpangan, untuk mengakhiri pelanggaran hak asasi manusia dan lainnya. Yang kalian lakukan itu punya satu tujuan: membuat dunia lebih baik. Saya sangat kagum pada kalian.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!