Ilustrasi. (Foto: WEForum.org)

KBR - Sejumlah negara di kawasan Asia turun peringkat dalam daftar Indeks Kompetitif Global yang disusun Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) untuk tahun ini.

Dalam laporan "The Global Competitiveness Report 2016-2017" yang dikeluarkan Forum Ekonomi Dunia, Indonesia melorot dari peringkat 37 (Indeks Kompetitif Global 2015-2016) ke peringkat 41 dengan nilai 4,52 dengan skala penilaian 1 sampai 7.

Dari tiga negara di Asia yang masuk 10 besar ekonomi dunia---Indonesia, Tiongkok dan Jepang---Indonesia masih kalah dibandingkan Jepang yang berada di peringkat delapan dan Tiongkok yang berada di posisi 28.

Laporan itu didasarkan pada penilaian 138 negara di dunia. Untuk tahun ini perhatian khusus soal tingkat keterbukaan dan dampaknya pada produktivitas dan kesejahteraan.

Posisi Indonesia juga masih di bawah beberapa negara kawasan Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia (peringkat 25) dan Thailand (34).

Sejumlah negara lain yang turun peringkat antara lain Jepang, Hong Kong, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam.

Sementara itu India menjadi negara di kawasan Asia yang paling tinggi peningkatannya di peringkat kompetitif global. Dari peringkat 55 tahun lalu, kini lompat ke posisi 39, menyalip Indonesia.

Laporan WEF menunjukan Swiss masih menjadi negara dengan tingkat kompetitif global terbaik di dunia dengan skor 5,81. Sedangkan Singapura belum tergeser dari posisi dua dan terus stabil dalam beberapa tahun.

Di susul Amerika Serikat di posisi tiga, kemudian Belanda (peringkat 4), Jerman (5), Swedia (6) dan Inggris Raya (7).

Selain Singapura, Jepang dan Hong Kong menjadi negara kedua dan ketiga di Asia yang masuk 10 besar negara dengan indeks kompetitif tertinggi. Jepang menempati posisi delapan sedangkan Hong Kong di peringkat sembilan.

Negara dengan tingkat kompetitif paling rendah diantaranya Venezuela, Liberia, Sierra Leone, Mozambique, Malawi, Burundi, Chad, Mauritania dan Yaman harus puas berada di peringkat ke-138 atau peringkat terakhir.

Penilaian

Penilaian dan analisa World Economic Forum dalam membuat pemeringkatan Indeks Kompetitif Global mengacu pada 12 pilar. Ke-12 pilar itu terdiri dari empat pilar dasar yaitu institusi, infrastruktur, iklim makroekonomi, dan kesehatan serta pendidikan dasar. Pilar dasar ini menjadi subkelompok faktor kunci pendorong (factor driven) ekonomi.

Selain itu ada enam pilar pendorong efisiensi berupa pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar perdagangan barang, efisiensi pasar tenaga kerja, pengembangan pasar finansial, kesiapan teknologi dan besaran pasar. Enam pilar ini menjadi kunci subkelompok pendorong efisiensi (efficiency driven) ekonomi.

Kemudian ada dua pilar faktor pendukung lain yaitu kepuasan bisnis dan inovasi. Dua pilar ini menjadi faktor pendorong inovasi.

Dari laporan tahun ini, Forum Ekonomi Dunia menilai turunnya tingkat keterbukaan mengancam pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan. Stimulus fiskal dianggap tidak cukup memadai untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan harus ditunjang dengan reformasi kompetitif.

"Turunnya tingkat keterbukaan di perekonomian global bisa menghambat tingkat kompetisi dan mempersulit para pemimpin negeri untuk mendorong pertumbuhan inklusif yang berkelanjutan," kata Klaus Schwab, pendiri dan Presiden Direktur Forum Ekonomi Dunia.

Dalam laporan WEF disebutkan, Indonesia melorot empat peringkat dan disalip sejumlah negara lain.

Meskipun pemerintah Indonesia sudah melakukan sejumlah reformasi di bidang ekonomi bisnis, namun hasilnya masih belum memuaskan; berada di peringkat 10 di besaran pasar (market size), peringkat 30 di sektor pendukung utama iklim makroekonomi (macroeconomics environment), dan di peringkat 31 di bidang inovasi.

Performa ekonomi Indonesia memang cukup baik, terbukti naik tujuh level ke peringkat 42 dalam penilaian pengembangan keuangan. Namun mengalami turun peringkat di bidang kesehatan dan sektor pendidikan dasar (turun 20 tingkat ke posisi 100).

Kesiapan Indonesia di bidang teknologi juga masih rendah, berada di peringkat 91 (turun enam peringkat) karena masih rendahnya penerapan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Hanya seperlima populasi Indonesia yang mengunakan internet, dan hanya tersedia satu koneksi pita lebar (broadband) untuk tiap 100 orang. (Weforum.org/Nikkei/Bloomberg Quint) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!