Mendagri: Praktik Politik Dinasti Tidak Terlalu Jelek

Namun, Tjahjo Kumolo mengatakan kontrol masyarakat harus diperketat agar yang terpilih dalam pencalonan itu benar-benar yang terbaik.

Senin, 26 Sep 2016 16:47 WIB

Mendagri Tjahjo Kumolo. (Foto: setkab.go.id)



KBR, Jakarta - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan tidak ada yang salah dari praktik politik dinasti.

Tjahjo mengatakan seseorang bisa mengajukan semua keluarganya menjadi calon kepala negara atau daerah. Namun, kata dia, kontrol masyarakat harus diperketat agar yang terpilih dalam pencalonan itu benar-benar yang terbaik.

"Politik dinasti tidak terlalu jelek. Itu tergantung dari manusianya. Boleh saja dia mau anak, cucu, suami, istri, sah-sah saja. Kan MK sudah membolehkan. Kalau menurut saya, seseorang yang sudah dewasa, apapun posisinya, apapun statusnya (boleh). Sekarang tinggal kontrol masyarakat harus lebih ketat. Yang bersangkutan juga harus menempati itu dengan baik. Ke depan, saya kita tidak masalah, muda-tua, ya tergantung yang bersangkutan tahan mental atau tidak," kata Tjahjo Kumolo, di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (26/9/2016).

Tjahjo Kumolo mengatakan fenomena politik dinasti yang kembali ramai belakangan ini merupakan sesuatu yang wajar. Seorang bekas kepala negara atau daerah bisa mengupayakan mewariskan jabatannya itu kepada keluarganya.

Tjahjo mengatakan tidak semua calon pemimpin daerah yang diusung dari dinasti politik jelek, meski yang diusung masih relatif muda.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan tahun lalu Mahkamah Konstitusi sudah melegalkan pencalonan keluarga dari petahana dalam pemilihan kepala daerah. MK menyatakan Undang-undang Nomor 8 tahun 2015 yang melarang calon kepala daerah yang berhubungan darah, termasuk ipar dan menantu dengan pemimpin daerah, melanggar hak konstitusi warga negara untuk memperoleh hak yang sama dalam pemerintahan.

Sorotan dinasti politik pada pemilihan kepala daerah 2017 diantaranya ke Provinsi Banten.

Di Banten, bekas Wali Kota Tangerang Wahidin Halim maju Pilkada Banten berpasangan dengan Andika Hazrumi. Andika merupakan bagian dari dinasti politik bekas Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Andika adalah anak dari Atut Chosiyah.

Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilu untuk Rakyat (JPPR) Masykurudin Hafidz, mengatakan saat ini mulai ada politik dinasti untuk memenangkan pilkada.

"Parpol diuntungkan kalau mengusung calon pasangan dari dinasti politik. Mereka lebih mandiri dalam menghimpun dana dan tak sulit untuk membangun popularitas," kata Masykurudin.

Editor: Agus Luqman  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Jokowi: Bantuan untuk Kabupaten Asmat Terkendala Akses Transportasi

  • Pemikul Sabu 30 Kilogram Divonis 20 Tahun
  • Hari Kelima, Kabut Asap Tebal Landa Hong Kong
  • Federer Lolos ke Perempat Final Australia Terbuka

Presiden Joko Widodo menyerukan agar PR anak-anak sekolah tak hanya urusan menggarap soal. Tapi melakukan hal-hal yang terkait kegiatan sosial dan lingkungan.