Ilustrasi (foto: Antara)



KBR, Jakarta- Wakil Presiden Jusuf Kalla   menyatakan, target pengadaan listrik hingga 35 ribu megawatt pada 2019 yang dicanangkan masa pemerintahan saat ini, untuk menghindari kesalahan subsidi pada masa lalu. JK mengatakan, kebutuhan listrik saat ini semakin besar, seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang naik 1,5 persen setiap tahun dan industri yang tengah berkembang.

JK mengatakan, tidak ada masalah apabila target yang ditargekan terpenuhi pada 2019 akan molor.

"Kita telah menetapkan target-target kita. Listrik adalah suatu bisnis atau infrastruktur yang tidak pernah berhenti untuk dibangun. Sekarang, kita sedang berada di tahap pertumbuhan industri. Karena itu, angka yang paling populer diucapkan para pejabat yaitu angka 35 ribu megawatt. Angka itu angka seperti angka keramat yang harus kita diselesaikan, dan memang itu adalah angka yang harus kita selesaikan, agar tidak mengulangi sejarah kesalahan masa lalu," kata JK di Jakarta Convention Center, Rabu (28/09/16).

JK mengatakan, listrik telah menjadi kebutuhan keempat manusia setelah sandang, pangan, dan papan. Namun, dalam pemenuhannya, kata JK, pemerintahan terdahulu lebih mengupayakan cara cepat, yakni pemberian subsidi. Kata JK, puncak kucuran subsidi energi terbesar terjadi pada 2014 lalu. Ia mengatakan, pemerintah sampai mengucurkan dana Rp 390 triliun, yang 100 triliun di antaranya untuk listrik.

JK berkata, saat ini, dengan pemangkasan subsidi untuk listrik, pemerintah sekaligus ingin melatih masyarakat agar lebih bijak menghemat listrik. Menurutnya, saat masyarakat mengetahui mahalnya pengadaan listrik, maka secara otomatis akan mengurangi penggunaannya.

JK berujar, hal terpenting dalam pengadaan listrik adalah soal pemerataan dan kesinambungannya, agar tidak mengganggu sistem distribusi. Sehingga, kata dia, saat ini pemerintah masih mendorong persebaran pembangkit listrik yang merata ke seluruh negeri. 

Pertumbuhan Industri 

Pemerintah menyatakan tren pertumbuhan listrik saat ini mencapai 2,5 sampai 3 kali lipat dibanding pertumbuhan industri. JK mengatakan, hal itu dialami semua negara yang baru memasuki tahap industrialisasi. Sehingga, kata dia, untuk mendorong pertumbuhan sektor itu, saat ini pemerintah sedang berupaya memenuhi kebutuhan listrik industri.

"Industri makin berkembang. Memang ada tren di dunia ini, bahwa pada awal-awal industrialiasi, kebutuhan pertumbuhan listrik bisa tiga kali lipat, atau 2,5 kali lipat dibanding pertumbuhan industri. listrik 2,5 kali lipat. Kalau sudah stabil, bisa lebih kecil. Sekarang, kita sedang ada di masa pertumbuhan industri, berarti pertumbuhan kebutuhan listrik akan 2,5 kali lipat dibanding pertumbuhan industri," kata JK di Jakarta Convention Center, Rabu (28/09/16).

JK mengatakan, pada masa awal pertumbuhannya, saat pertumbuhan industri semakin besar, berarti akan semakin besar pula pertumbuhan kebutuhan listriknya. Kata JK, saat ini pemerintah masih mengupayakan penyediaan pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan yang besar itu. Ia mengatakan, situasi akan berangsur normal saat pertumbuhan industri mulai stabil. 

JK berujar, saat ini sudah mulai mengejar target pengadaan listrik 35 ribu megawatt pada 2019, yang salah satunya untuk memenuhi kebutuhan industri. Kata dia, apabila target itu tak tercapai, secara tidak langsung negara turut andil menghambat pertumbuhan sektor industri. 


Editor: Rony Sitanggang


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!