Presiden Joko Widodo berdialog dengan Ketua Umum Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC) Senni Marbun (kursi roda tengah) depan) serta peraih medali perunggu cabang angkat berat Paralimpiade Rio De Jainero Brazil Ni Nengah Widiasih (kanan).

KBR, Jakarta- Ni Nengah Widiasih  menjadi pusat perhatian di Istana Merdeka ketika kontingen Paralimpiade  diterima oleh Presiden Joko Widodo. Pasalnya, hanya Widi yang berkalungkan medali, meski seluruh kontingen mengenakan baju batik seragam. Widi menjadi penerus tradisi medali Indonesia di ajang kompetisi olahraga sekelas Olimpiade bagi atlet   disabilitas.

Kepada Presiden, atlet angkat berat ini menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah dan masyarakat selama berlaga di Paralympic. Widi berjanji akan terus mengasah diri, menyongsong kejuaran-kejuaraan selanjutnya.

"Mohon maaf jika belum bisa maksimal, hanya ini yang bisa kami berikan kepada Indonesia dan ke depannya semoga kami bisa lebih baik lagi prestasinya," ujar perempuan berusia 23 tahun ini, Kamis (22/09).

Selama berlaga di Paralimpiade Rio, Brasil, Widi mengaku mendapat lawan-lawan yang berat. Kendati begitu, ia bangga bisa bertanding dengan atlet-atlet papan atas dunia.

"Jadi saya sangat bangga bisa ada di sana, tantangan terberatnya karena lawan-lawan yang sangat berat, karena saya juga sudah beberapa kali bertemu dengan mereka," tuturnya.

Widi meraih medali perunggu di cabang angkat berat di kelas 41 kilogram. Sementara medali emas dan perak masing-masing dikoleksi oleh Nazmiye Muratli dari Turki dan Cui Zhe dari Tiongkok.

Atas prestasi yang diraihnya, Widi berhak mendapat penghargaan setara dengan atlet Olimpiade, sebagaimana dijanjikan pemerintah. Widi diberikan bonus Rp 1  Miliar dan Jaminan Hari Tua sebesar Rp 10 Juta perbulan. Atas penghargaan ini, Widi mengaku bersyukur dan mengungkapkan rasa terima kasih.

"Bapak Presiden, bapak Menteri sudah menyamakan kami atlet paralympic dengan atlet olimpic itu sudah sangat luar biasa buat kami, jadi kami sangat bersyukur," tutur perempuan kelahiran Bali ini.

Banjir bonus dan hadiah, hal pertama yang terlintas di pikiran Widi adalah mempersembahkannya untuk orang tua.

"Yang pertama membuat orang tua saya bahagia, apapun itu, pokoknya yang penting orang tua saya bahagia dulu. Selanjutnya mungkin akan saya buka usaha, saya belum tahu apa itu," ujarnya.

Kepada sesama penyandang disabilitas, Widi berpesan agar jangan menyerah dengan keadaan. Meski memiliki kelemahan, mereka tetap bisa menjadi hidup mandiri dan meraih yang terbaik.

"Lakukan apa yang bisa dilakukan, kerjakan apa yang bisa dikerjakan, berusaha untuk menjadi yang lebih baik dan yang terbaik, mandiri untuk diri sendiri karena semangat, jangan putus asa, teman-teman yang difabel, jangan pernah jadi korban dari keadaan, tapi jadilah pemenang dari keadaan itu sendiri, semangat!," ucapnya penuh semangat. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!