Gempa Lombok, KPAI Imbau Tak Berikan Susu Formula bagi Bayi Pengungsi

"Jangan sampai situasi darurat seperti bencana Lombok, jadi gerbang masuk bagi produsen susu formula."

Selasa, 14 Agus 2018 12:41 WIB

KPAI Minta Pemerintah Awasi Bantuan Susu Formula Bagi Anak Korban Gempa Lombok (Foto: Resky Novianto)

KBR, Jakarta- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengimbau pemerintah agar selektif mengawasi pemberian bantuan susu formula untuk bayi dan anak korban gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Komisioner KPAI Bidang Sosial dan Anak Dalam Situasi Darurat, Susianah Affandy menjelaskan, hal tersebut sesuai dengan Peraturan Kementerian Kesehatan Nomor 39 Tahun 2013.

Kata dia, aturan itu menyebut Kementerian Kesehatan wajib mengawasi pemberian susu formula termasuk dalam kondisi darurat seperti bencana. 

"Ya ini artinya BNPB, Dinas Kesehatan, dan Kementerian Kesehatan harus membuat larangan untuk susu formula masuk ke tenda-tenda pengungsi, agar tidak digunakan untuk anak usia balita," tegas Susianah, di kantor KPAI, Jakarta Pusat, Senin, (13/08).

Susianah menjelaskan, ASI merupakan nutrisi paling sempurna bagi bayi. Efek samping susu formula yang dikonsumsi bayi dapat berdampak pada diare dan stunting. Sehingga, kata dia, perlu pengawasan ketat terhadap masuknya sumbangan susu formula ke barak pengungsian di Lombok.

"Jangan sampai situasi darurat seperti bencana Lombok, jadi gerbang masuk bagi produsen susu formula. KPAI akan segera melakukan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk mengawasi suplai susu formula," Tutup Susianah.

Sementara, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB0, terdapat 387.067 pengungsi akibat gempa yang mengguncang Lombok, NTB. Di antara pengungsi terdapat puluhan ribu bayi dan anak-anak yang perlu mendapat perlakuan khusus selama mengungsi seperti bantuan susu dan makanan.

Editor: Adia Pradana 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".