Pengamat: Kehadiran Mega-SBY di Istana Simbol Rekonsiliasi Politik

"Itu sesuatu yang baik, karena selama ini kan anggapannya kalau ada SBY, Megawati enggak mau, atau kalau ada Megawati, SBY tidak mungkin ada di tempat yang sama."

Kamis, 17 Agus 2017 22:54 WIB

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri berjabat tangan dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ani Yudhoyono di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/8/2017). (Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari)

KBR, Jakarta - Pengamat politik dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Jayadi Hanan menilai pertemuan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Istana Merdeka merupakan simbol rekonsiliasi politik.

SBY dan Megawati hadir dan berfoto bersama dengan presiden dan wakil presiden terdahulu atau yang mewakili, di acara peringatan HUT ke-72 RI di Istana Merdeka.

Jayadi mengatakan, pertemuan SBY dan Megawati tersebut merupakan hal positif yang berhasil dijembatani Presiden Joko Widodo. Meski begitu, Jayadi mengatakan, pertemuan tersebut juga terlalu dini apabila diartikan sebagai koalisi politik.

"Ini masih simbol saja, simbol dalam hari kemerdekaan. Belum bisa dikatakan akan ada koalisi politik, atau SBY akan memasukkan anaknya ke dalam pemerintahan Jokowi. Itu terlalu jauh, belum bisa dibaca ke sana. Ini simbol saja," kata Jayadi Hanan kepada KBR, Kamis (17/8/2017).

Jayadi Hanan mengatakan kehadiran SBY dan Megawati secara bersamaan di acara peringatan kemerdekaan memang tidak terduga. Selama ini, kata Jayadi, publik beranggapan SBY tak akan hadir ke acara yang sama dengan Megawati, dan begitu sebaliknya. Hal itu terkait dengan perseteruan politik di masa lalu. Namun, kata Jayadi, pertemuan bekas presiden yang berlawanan arah politik kali ini merupakan hal positif.

"Itu sesuatu yang baik, karena selama ini kan anggapannya kalau ada SBY, Megawati enggak mau, atau kalau ada Megawati, SBY tidak mungkin ada di tempat yang sama. Tapi ini bisa kan untuk pertama kali, dan itu suatu kemajuan," kata Jayadi.

Jayadi menyoroti dua hal menarik dalam momen peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini. Pertama, ia menyoroti simbol budaya yang telah dimulai diterapkan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan mengenakan pakaian adat secara bertukar adat ketika pidato kenegaraan di DPR, lalu disusul dengan peringatan kemerdekaan di Istana Merdeka.

Hal menarik kedua, kata Jayadi, adalah kehadiran SBY ke upacara kemerdekaan di Istana Merdeka, yang menjadi simbol rekonsiliasi politik.

Enggan berkomentar

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) enggan berkomentar mengenai kehadirannya di Istana Merdeka, bersama dengan Megawati.

Ia hanya menyampaikan doa agar Indonesia makin bersatu membangun negeri. Ia berharap Indonesia pada 2045 akan kuat dan makmur.

"Semoga bangsa Indonesia makin bersatu, kompak membangun negerinya bersama-sama. Insya Allah 2045 negara kita akan kuat, makin adil, dan makin makmur. Itu saja. Thank You," kata SBY di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (17/8/17).

SBY mengaku berdiskusi tentang banyak hal dengan Presiden Jokowi. Mereka juga sempat berfoto bersama usai upacara.

"Foto-foto bareng tadi. Yang diobrolkan banyak," kata dia.

SBY bersama Ani Yudhoyono hadir di Istana Merdeka untuk mengikuti rangkaian upacara peringatakan kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia, Kamis (17/8/2017).

SBY terlihat sempat bersalaman dengan Presiden Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri. Putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono juga hadir dalam agenda itu bersama istrinya Annisa Pohan.

Menurut Agus, kehadiran SBY adalah sesuatu yang baik bagi semua. Ia mengatakan wajar bila SBY hadir karena merupakan putera terbaik dan pernah menjabat presiden.

"Saya pikir pada kesempatan yang baik ini, artinya baik buat semuanya. Kali ini beliau bisa hadir, sedangkan tahun sebelumnya ada kegiatan. Dan tahun ini saya bersama keluarga yang lain bisa hadir acara di sini," kata Agus.

Agus membenarkan ia dan SBY ikut dalam jamuan makan bersama dengan Jokowi.

"Tadi kan dijamu Presiden. Ada tumpengan diberikan kepada pejuang 1945 yang bersama kita,"

Namun, ia mengaku tidak tahu apakah SBY duduk satu meja dengan Jokowi maupun Megawati.

"Saya nggak lihat secara khusus, nggak perhatikan satu persatu," tutur Agus.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Korea Utara Peringatkan Australia

  • CIA Ingatkan Korea Utara Mampu Serang Amerika dengan Rudal
  • Obama dan Bush Prihatinkan Kehidupan Politik di Amerika Serikat
  • Kota Raqqa Suriah Hancur