Kasus Novel, Polda: Polisi Australia Tidak Bisa Identifikasi CCTV

Kualitas hasil rekaman CCTV saat Novel diserang buruk

Selasa, 15 Agus 2017 21:06 WIB

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan (kiri) bersama istri Rina Emilda (kanan) dan anak bungsunya di Singapura, Selasa (15/8). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Polda Metro Jaya membenarkan Kepolisian Australia (AFP) tidak bisa mengidentifikasi CCTV yang merekam penyerangan penyidik KPK, Novel Baswedan. Juru bicara Polda Metro Jaya, Argo Yuwono mengatakan, pihaknya telah mendapat surat balasan dari AFP terkait permohonan bantuan dari mereka. Dalam suratnya, AFP menyatakan tidak bisa mengidentifikasi CCTV tersebut karena masalah resolusi.

"Kita sudah dapat balasan dari AFP, jadi mereka menyampaikan hasilnya bahwa mereka tidak bisa melihat dengan jelas. Jadi hasilnya sama dengan analisa yang sudah kita buat. (Bantuan negara lain?) Nggak nanti kita lihat dulu, kita berikan ke penyidik yah," katanya pada wartawan, Selasa (15/08/17)

Argo juga membantah kekecewaan Novel terkait pelibatan penyidik baru dalam kasus tersebut. Dalam kasus ini, kata Argo, memang ada dua penyidik baru yang dilibatkan untuk memeriksa Novel di Singapura.

Bersepakat dengan Polisi
Mengamini kepolisian, pakar telematika Abimanyu Wachjoewi menilai rekaman kamera pengintai (CCTV) yang menangkap momen penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan berkualitas sangat buruk, sehingga sulit melihat sosok penyerangnya. Abimanyu mengatakan, peristiwa penyerangan yang terjadi saat gelap membuat rekaman CCTV tersebut hanya mengandalkan sinar infra merah atau infra red dan membuat kualitas pikselnya rendah.

Selain itu, letak kamera pengintai yang jauh juga semakin memperburuk kualitasnya. "Iya, sekalipun banyak CCTV, tapi kembali tujuan CCTV kan menangkapnya bukan mengincar suatu obyek, tapi hanya menangkap obyek apapun yang lewat, yang kebetulan bagus, jadi harus dianalisis satu-satu," kata Abimanyu kepada KBR, Selasa (15/08/2017).

Ujar Abimanyu kembali, institusi manapun- termasuk kepolisian Australia, akan tetap sulit jika rekamannya buruk. "Yang kita bicarakan bukan polisinya, tapi teknologinya telematikanya. Jadi barang bukti, di mana saat itu terjadi barang bukti direkam dari jarak yang jauh, maka kita tajamkan agar lebih dekat, CCTV itu enggak mampu," jelasnya lagi.

Abimanyu berujar, kamera CCTV bekerja dengan menangkap gambar yang kemudian dikirim ke jaringan. Saat menangkap gambar tersebut, apabila hanya memanfaatkan infra red, maka hanya akan berupa hitam-putih, serta dengan kualitas piksel rendah.

Dia berkata, CCTV jenis pengintai, seperti yang menjadi bukti penyerangan Novel, berbeda dengan kamera identifikasi yang biasanya diletakkan dekat dengan obyek. Akibatnya, kualitas gambarnya juga sangat jauh dan tak jelas. 

Editor: Dimas Rizky

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Sidang Korupsi e-KTP, Setya Novanto Mengaku Sakit

  • Libur Natal dan Tahun Baru 2018, PT KAI Daop 3 Cirebon Siapkan Kereta Tambahan
  • Kim Jong-un Sesumbar Jadikan Korut Negara Nuklir Terbesar di Dunia
  • Thailand Takkan Jalin Kerjasama Perdagangan dengan Korea Utara