Cegah Radikalisme di Kampus, Menristekdikti Gandeng BNPT dan BIN

"Jangan sampai mahasiswa kegiatan kosong karena diisi oleh mereka-mereka itu. Ini harus kita isi kegiatan mempunyai nilai-nilai kebangsaan itu tadi,"

Jumat, 25 Agus 2017 13:43 WIB

Ilustrasi (foto: Antara)

KBR, Jakarta- Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti) Muhammad Natsir menyatakan akan bekerja sama Badan Intelejen Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk menangkal radikalisme dan terorisme di kampus seluruh Indonesia. Hal ini disampaikan M Natsir usai mendampingi 16 rektor perguruan tinggi bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta.

"Peran pemerintah adalah selalu mengafirmasi kepada seluruh perguruan tinggi. Dan kita melakukan mediasi, supaya semua dijadikan satu semua informasi. Kami bekerja sama dengan BNPT, bersama dengan BIN, terkait hal-hal yang ada di kampus seluruh Indonesia. Tujuannya adalah kami ingin menjaga Indonesia harus dalam benteng wawasan kebangsaan ini," kata Natsir di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (25/8/2017).

M Natsir menambahkan, pembelajaran tentang wawasan kebangsaan di kampus negeri dan swasta ke depan harus diperkuat. Selama ini mata kuliah terkait seperti Pancasila telah diajarkan di kampus, namun belum dioptimalkan.

"Sudah ada mata kuliah Pancasila, cuma sistem pembelajarannya inilah yang harus terimplementasi pada perilaku,"  ujar dia.

Kata Natsir, kampus didorong untuk membuat kegiatan-kegiatan bernuansa kebangsaan yang melibatkan mahasiswa. Sehingga, peluang untuk masuknya ideologi radikal makin tertutup.

"Jangan sampai mahasiswa kegiatan kosong karena diisi oleh mereka-mereka itu. Ini harus kita isi kegiatan mempunyai nilai-nilai kebangsaan itu tadi,"

Rencananya, September mendatang akan digelar deklarasi kebangsaan di Bali yang dihadiri para rektor kampus seluruh Indonesia. Ditargetkan lebih dari 2000 rektor akan hadir baik dari kampus negeri maupun swasta. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

Belum Temukan Pelaku Penyiraman Novel, Polisi Klaim Sudah Banyak Kemajuan

  • Dialog Jakarta Papua, Pemerintah Diminta Tak Abaikan Suara ULMWP
  • Dibanding Pekan Lalu, Pasien Difteri di RSPI Meningkat Nyaris Tiga Kali Lipat
  • 7 Narapidana Kabur Usai Potong Teralis Besi Lapas Binjai

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi