Petugas Pengamanan Pilkada di Puncak Jaya Diserang, Ini Penyebab Kematiannya

"Senjata belum ditemukan, yang dua lagi juga belum ditemukan."

Selasa, 03 Jul 2018 11:36 WIB

Bripka Anumerta Sinthon R.O. Kabarek Anggota Polres Puncak Jaya Polda Papua. (Foto: Humas Polri)

KBR, Jakarta- Kapolri Tito Karnavian mengatakan kematian  Brigadir Sinthon Kabarek bukan karena tembakan. Kata dia, dari hasil autopsi kematian disebabkan   buntunya saluran pernapasan.

Brigadir Sinton menjadi korban     saat  speedboat yang ia tumpangi diberondong tembakan oleh kelompok bersenjata di Distrik Torere, Kabupaten Puncak, pada 27 Juni 2018. Jenazahnya ditemukan kemarin (01/07) di sungai Mamberamo Papua.

"Satu orang anggota kita yang Brigadir ini hasil autopsi terkena luka tembak di kaki. Jadi bukan di badan. Hasil autopsi juga ditemukan banyak  lumpur di saluran pernapasan. Sehingga diduganya meninggalnya bukan karena tembakan itu, tapi karena buntunya saluran pernapasan." Ujar Kapolri Tito Karnavian, usai upacara  di gedung Rupatama Mabes Polri, Selasa (3/7/2018).

Tito melanjutkan, "senjata belum ditemukan, yang dua lagi juga belum ditemukan. Ini sungai Mamberamo ya, cukup panjang, salah satu yang terpanjang. Dan kemudian upaya pencarian dua lagi tetap dilakukan." Tambah Tito.

Sebelumnya dilaporkan terjadi  penembakan oleh kelompok   bersenjata kepada rombongan petugas yang tengah mengangkut surat suara pilkada menggunakan perahu di distrik Torere , Puncak Jaya, Papua, Rabu (27/6/2018). Serangan itu mengakibatkan tewasnya Kepala Distrik  Obaja Froaro dan 2 anggota polisi hilang. Saat ini jenazah baru Bripka Sinthon Kabarek yang ditemukan, sedangkan  Kepala urusan Pembinaan Operasional (KBO) Binmas Puncak Jaya  Ipda Jesayas H Nusi dan satu warga sipil masih hilang.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Perkembangan teknologi yang begitu cepat menjadi tantangan bersama bagi gerakan koperasi di era milenium.