Bom di Pasuruan, dari Jaringan Terduga Pelaku Teror hingga Jenis Bom

Polisi masih memburu terduga pelaku pemilik bom yang meledak di Desa Gemping, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Jumat, 06 Jul 2018 14:31 WIB

Petugas kepolisian berjaga di lokasi ledakan bom di kawasan Pogar, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (5/7). (Foto: ANTARA/ Umarul F)

KBR, Surabaya - Kepolisian memeriksa istri terduga teroris, AW yang bomnya meledak di Desa Gemping, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kapolda Jawa Timur Machfud Arifin mengatakan, setelah diperiksa, istri terduga pelaku akan dipertemukan dengan sang anak yang kini dirawat di RS Bhayangkara Polda Jawa Timur.

"Ibunya ada, tapi masih dalam pemeriksaan. Setelah pendalaman selesai, nanti pasti kami akan pertemuan dengan anaknya," kata Machfud Arifin di Surabaya, Jumat (6/7/2018).

Ledakan bom terjadi di Desa Gemping, Kecamatan Bangil pada Kamis (5/7/2018). Kejadin itu mengakibatkan dua orang luka antara lain terduga pelaku dan sang anak.

Mahfud  menambahkan, terduga pelaku teroris merupakan kawan dekat dari pelaku teror yang merampok bank di Medan. 

"Sebenarnya dia bersahabat dengan pelaku perampokan yang ada di Medan."

Ia menjelaskan, polisi sudah mengidentifikasi pelaku yang diduga menggunakan KTP palsu. Bom tersebut diduga meledak saat akan dirakit. "Ya meledak sendiri saat dirakit, enggak tahu akan dipakai meledakkan di mana," kata dia.

Baca juga:


Jenis Bom

Juru bicara Polda Jawa Timur Frans Barung Mangera menerangkan, bom yang meledak itu berasal dari bom ikan atau yang dikenal dengan sebutan bondet. Bom tersebut berdaya ledak rendah, sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang besar.

"Bahwa hasil kami sudah fix tidak terbantahkan lagi sesuai dengan laboratorium forensik, bahwa bom tersebut adalah low explosif. Berjenis bom ikan atau dikenal masyarakat Jawa Timur, bondet," terangnya di Surabaya, Jumat (6/7/2018).

Dia mengatakan, dari hasil penyelidikan polisi diketahui bahwa bom tersebut diduga meledak saat dirakit. Sehingga, melukai terduga teroris berinisial AW dan anaknya yang masih balita.

"Kemudian yang kedua adalah bahwa tidak ada pemberitaan bom itu peledakan yang terjadi adalah human error," kata Frans.

"Meledak sendiri dirakit dan melukai anaknya," tambahnya.

Frans Barung mengatakan, polisi sudah mengidentifikasi terduga teroris dan melanjutkan perburuan. Dari hasil penyelidikan, terduga teroris menyamarkan identitas untuk mengelabuhi petugas.

"Kami sudah mengidentifikasi orangnya walaupun dia sudah memakai tiga identifikasi yang bersangkutan. Tim masih bekerja."

Baca juga:


Jaringan JAD

Markas Besar Kepolisian Indonesia memastikan terduga pelaku teroris pemilik bom di Kecamatan Bangil, Pasuruan itu tergabung dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Juru bicara Mabes Polri Muhammad Iqbal menuturkan terduga pelaku merupakan bekas narapidana teroris yang ditahan di Lapas Cipinang pada 2010 hingga 2015, karena melakukan teror bom di Posko Kalimalang. Dari berbagai bukti yang berhasil dihimpun, Polri menyimpulkan terduga teroris sering berhubungan dengan narapidana teroris lain, dan terhubung dengan jaringan JAD.

"Dalam kesehariannya, dari semua alat bukti yang sudah kita temukan sementara, terduga pelaku bisa kita pastikan masuk juga dalam jaringan JAD," jelas Iqbal di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (6/7/2018).

Meski sudah mengidentifikasi identitas terduga pelaku, kepolisian belum bisa menyimpulkan target sasaran bom sebelum akhirnya meledak di rumah kontrakan terduga pelaku. Iqbal menambahkan, saat ini polisi tengah memburu terduga pelaku yang melarikan diri.

"Ketika insiden itu terjadi, tim sudah mengidentifikasi identitas terduga pelaku, saat ini kami sedang memburu terduga pelaku," jelasnya lagi.

Baca juga:


Aksi Prematur

Pengamat terorisme Sofyan Tsauri mengaku kenal dengan terduga teroris AW. Eks napi kasus terorisme itu pernah menjalani masa tahanan bersama. Yakni, sejak di Polda Metro Jaya hingga ke Lapas Cipinang Jakarta Timur. Namun, Sofyan mengaku sering cekcok pemahaman saat berdiskusi lantaran sejak awal AW sangat meyakini ISIS.

Pada Agustus 2015, AW akhirnya bebas dari tahanan.  Sofyan menuturkan, AW merupakan bekas narapidana teroris kasus bom sepeda onthel di kawasan Kalimalang, Bekasi, pada Oktober 2010.

Dalam kasus itu, lanjut Sofyan, pelaku gagal menjalankan misinya untuk menyerang kepolisian dan bomnya meledak di sekitar lampu lalu lintas. Serupa dengan tahun itu, Sofyan menyebut aksi AW kali ini pun prematur. Sebab bom AW justru melukai dirinya sendiri dan sang anak.

"Mereka (ingin) menyerang pos polisi. Mereka walau enggak berhasil pada waktu itu, ya sekarang juga enggak berhasil juga kan, malah kena anaknya," kata Sofyan saat dihubungi KBR.

"Saya rasa mereka prematur. Bom ini prematur. Mau diledakkan mungkin anaknya pegang-pegangan atau apa, malah kena anaknya," lanjutnya.

Sebelumnya, telah terjadi ledakan bom di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Pogar, Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Bom yang meledak itu melukai anak terduga pelaku pemilik bom.

Kepolisian masih memburu terduga pelaku yang melarikan diri setelah sempat ditembak. Menurut Kapolda Jawtim Machfud Arifin, ledakan bom  Kamis (5/7/2018) siang itu terjadi sebanyak tiga kali.

"Kejadiannya jam 12.30 (Kamis, 5/7/2018), terjadi ledakan sekali, dipikir LPG meledak kata tetangga sebelah. Dicari dan didatangi sumbernya, yang bersangkutan ditolong sama tetangganya dalam kondisi berdarah," kata Machfud Arifin di Surabaya, Kamis (5/7/2018).

"Ada dua yang mengalami luka. Yang satu yang bersangkutan (terduga pelaku) dan satunya anaknya, kakinya yang kena," tambahnya.

Ia pun melanjutkan, ketika melihat masyarakat datang karena bunyi ledakan pertama, terduga pelaku langsung masuk rumah dan meledakkan bom sebanyak dua kali. Bom tersebut dalam kategori low-eksplosif sehingga tak banyak kerusakan akibat ledakan.

Baca juga:





Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Pemilihan umum 2019 memang masih satu tahun lagi. Namun hingar bingar mengenai pesta akbar demokrasi m ilik rakyat Indonesia ini sudah mulai terasa saat ini.