KPPU: 5 Perusahaan Besar Kendalikan Harga Beras di Indonesia

"Rata-rata sekitar lima perusahaan menjadi pemain atau perusahaan besar di setiap propinsi yang menjadi sentra produksi beras," kata Ketua KPPU Syarkawi Rauf.

Senin, 24 Jul 2017 20:07 WIB

Ilustrasi. Pekerja mengangkat beras jenis medium di Gudang Bulog, Medan, Sumatera Utara, Sabtu (22/7/2017). (Foto: ANTARA/Irsan Mulyadi)

KBR, Solo - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan indikasi setiap provinsi sentra beras di Indonesia dikuasai lima perusahaan.

Ketua KPPU Syarkawi Rauf mengatakan segelintir perusahaan ini menguasai pemasaran dan pengendalian harga beras. KPPU sudah mengawasi perusahaan-perusahaan itu sejak lima tahun lalu, termasuk pengawasan industri perdagangan beras yang baru saja dibongkar polisi terkait penetapan harga yang tak wajar.

"Permainan harga bahan pangan, termasuk beras, akan membuat harga jual di konsumen semakin tinggi. Ini yang kami lihat. Apakah sudah terjadi permainan harga, masih dalam proses. Tapi dari struktur pasar, kita temukan ada perusahaan-perusahaan yang menguasai pasar, mengendalikan harga. Rata-rata sekitar lima perusahaan menjadi pemain atau perusahaan besar di setiap propinsi yang menjadi sentra produksi beras," kata Syarkawi Rauf di Solo, Jawa Tengah, Senin (24/7/2017).

Syarkawi mengatakan di Indonesia ada 17 provinsi yang menjadi sentra beras, seperti Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan lain-lain.

"Perusahaan itu ada yang cuma ada di satu propinsi saja, tetapi juga ada yang sudah berjaringan secara nasional," kata Syarkawi, tanpa mau menjelaskan nama perusahaan itu.

KPPU, kata Syarkawi, mendorong Pemerintah memperkuat peran koperasi tani. Koperasi ini meminimalkan rantai distribusi kepada konsumen, karena rantai yang panjang membuat harga di tingkat konsumen semakin tinggi.

Syarkawi menambahkan saat ini petani berada di posisi yang lemah, sedangkan banyak tengkulak muncul dan berpotensi memainkan harga beras di pasar.

"Selama ini keuntungan terbesar justru dirasakan oleh para pemain yang ada di tengah rantai niaga. Sedangkan petani yang bekerja paling keras hanya memperoleh untung yang sedikit atau justru merugi," tambah Syarkawi.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Saracen, Analisis PPATK sebut Nama Besar

  • Bentuk Densus Tipikor, Mabes Minta Anggaran Hampir 1 T
  • Bareskrim Sita Jutaan Pil PCC di Surabaya
  • Konflik Myanmar, Tim Pencari Fakta PBB Minta Tambahan Waktu