Konflik Lahan Teluk Jambe, Menteri Agraria: Perusahaan Setuju Lepas 18 Hektare

"Sudah, 18 hektare. Ini sekalian bersama dengan reforma agraria. Mudah-mudahan, saya kalau dari sisi lahan sudah siap."

Selasa, 04 Jul 2017 21:29 WIB

Ilustrasi: Aksi petani Teluk Jambe Karawang, Jabar saat mengubur diri di depan istana kepresidenan. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil mengklaim PT Pertiwi Lestari telah setuju melepas 18 hektare lahan untuk pemukiman warga Teluk Jambe Barat, Karawang. Kata dia, penyerahan lahan kepada sekitar 390 keluarga ditargetkan selambatnya akhir bulan ini. Penyerahan dilakukan bersamaan dengan pemberian izin pemanfaatan lahan garapan yang ditangani oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

"Sudah, 18 hektare. Ini sekalian bersama dengan reforma agraria. Mudah-mudahan, saya kalau dari sisi lahan sudah siap. Bareng sama menteri kehutanan, untuk perhutanan sosial. Mudah-mudahan bulan ini, sampai dengan akhir bulan," kata Sofyan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/7/2017).

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya memastikan setiap keluarga petani Teluk Jambe mendapatkan izin mengelola 1-2 hektare lahan milik Perhutani. Mereka akan mengelola lahan Perhutani dengan total luas sekitar 2500 hektare bersama dengan 1300an petani lain yang telah lebih dahulu memiliki izin kelola.

Petani Teluk Jambe akan diberikan izin pemanfaatan selama 35 tahun dan bisa diperpanjang. Namun, setiap 3 tahun izin akan dievaluasi dan bisa dicabut apabila warga tidak memanfaatkan lahan secara produktif.

"Cabut, soalnya kan yang lain masih butuh," ujar Siti.

Menanggapi itu Koodinator Petani Teluk Jambe, Karawang Barat, Madhari berharap keputusan pemerintah mengenai hak tanah yang telah diberikan kepada para petani dapat konsisten. Ia juga yakin selama 3 tahun para petani akan memberdayakan lahan.

"Kita berkomitmen sebagai petani, selama 3 tahun siaplah. mudah-mudahan selama 3 tahun kita semuanya sudah terberdaya gitu. sudah dapat penghasilan dari lahan tersebut. Insha allah, karena memang kita ini semuanya petani. selama 3 tahun sudah terberdaya, sudah produktif," tutur Madhari kepada KBR, Selasa (4/7).

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR