Hari ke-106, Polisi Akui Sulit Ungkap Pelaku Penyerang Novel Baswedan

"Kami sudah berupaya maksimal. Sudah ada puluhan keterangan ahli, sudah ada 50 lebih saksi yang kami periksa. Namun belum ada yang signifikan mengarah ke pelaku," kata Rikwanto.

Rabu, 26 Jul 2017 15:35 WIB

Sejumlah pegawai KPK melakukan aksi solidaritas untuk Novel Baswedan di Gedung KPK Jakarta, Kamis (13/4/2017). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Polisi mengaku kesulitan mengungkap peristiwa penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

Setelah memakan waktu selama dua bulan lebih, tepatnya 106 hari, hingga kini polisi belum mampu menemukan pelaku penyerang Novel menggunakan air keras.

Juru bicara Mabes Polri Rikwanto mengatakan para penyidik sudah berupaya maksimal mengungkap perkara ini. Namun dari sekian banyak saksi yang diperiksa, belum ada keterangan yang mengarah pada pelaku.

"Kami sudah berupaya maksimal. Sudah ada puluhan keterangan ahli, sudah ada 50 lebih saksi yang kami periksa. Namun belum ada yang signifikan mengarah ke pelaku. Bahkan keterangan yang terdekat, dugaan pelaku ataupun ada saksi yang mengatakan tahu pelakunya setelah diambil keterangan, kami konfirmasi, juga akhirnya hanya sebatas dugaan saja," kata Rikwanto di Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (26/7/2017).

Rikwanto menambahkan memang ada informasi yang menyebut ada kerabat Novel yang saat ini berada di satuan Densus juga ikut membantu menunjukkan sejumlah foto yang diduga merupakan pelaku penyerangan kepada Novel. Tapi lagi-lagi, kata Rikwanto, upaya itu tidak banyak membantu.

"Itu info lama. Bahwa ada rekan Novel yang satu angkatan, anggota Densus ikut peduli dan bantu menunjukkan sejumlah foto. Setelah didalami, ternyata bukan yang dimaksud," tambah Rikwanto.

Menurut Rikwanto, setelah orang-orang yang ada di foto tersebut diperiksa, ternyata mereka memiliki alibi kuat dan bukan merupakan pelaku penyiraman.

"Sudah diambil keterangan, sudah diperiksa ada empat orang yang diduga kuat sebagai​ pelaku. Namun setelah dilakukan pemeriksaan mendalam ternyata alibinya kuat," imbuhnya.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Periksa Saksi Meringankan Setnov Pekan Depan

  • Polda Metro Rilis 2 Sketsa Terduga Penyerang Novel
  • Polda Papua Akui Ada Perintah Tembak di Tempat di Tembagapura
  • Pemprov Akan Pelajari Investigasi Ombudsman

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing