Desak Pembentukan TGPF, Novel Baswedan Siap Buka-Bukaan

Sampai detik kemarin, hari Senin kami bertemu Novel, setidak-tidaknya Novel tidak pernah dihubungi untuk kepentingan tim tersebut," kata Haris Azhar.

Rabu, 26 Jul 2017 20:50 WIB

Gerakan sipil mendukung Novel Baswedan. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyatakan tak pernah dihubungi atau ditemui polisi terkait dengan penyelidikan polisi terhadap kasus penyerangan air keras terhadap dirinya pada 11 April lalu.

Hal itu, dikatakan Novel kepada aktivis hak asasi manusia Haris Azhar, ketika Haris mengunjunginya di rumah sakit di Singapura, Senin lalu.

Haris mengatakan, Novel meragukan tim gabungan antara kepolisian dan KPK benar-benar berjalan, karena ia merasa tak ada temuan signifikan yang mereka hasilkan.

"Saya tanya ke Novel, apakah sepengetahuan Mas Novel tim itu sudah kerja? Paling tidak yang datang ke Novel? Ternyata menurut Novel tidak ada sama sekali. Sampai detik kemarin, hari Senin kami bertemu Novel, setidak-tidaknya Novel tidak pernah dihubungi untuk kepentingan tim tersebut," kata Haris kepada wartawan di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (26/7/2017).

Haris Azhar menemui Novel Baswedan di Singapura bersama sejumlah orang, termasuk Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Azhar Simanjuntak.

Haris menduga ada tarik-menarik atau sandera alat bukti antara kasus Novel dengan kasus lain.

Menurut Haris, Novel mulai meragukan keseriusan polisi dalam mengungkap kasus penyerangan yang menimpanya. Haris mengatakan polisi sudah menyatakan akan menemui Novel di Singapura untuk meminta keterangan Novel setelah Lebaran. Namun, hingga sebulan usai Lebaran, Novel belum menerima kabar soal tindak lanjut rencana kunjungan tersebut.

Haris berkata, Novel sangat menunggu penyelesaian kasus penyiraman air keras yang dialaminya. Novel juga sempat berharap besar saat Kapolri Tito Karnavian mendatangi KPK untuk meminta dukungan penyelesaian kasus penganiayaan tersebut, serta KPK yang sampai menyiapkan tim untuk membantu kepolisian. Namun, kata Haris, kini Novel meragukan keseriusan dua lembaga itu untuk mengungkap kasus yang menimpanya.

Di tempat yang sama, Dahnil Azhar menceritakan Novel berjanji akan mengungkap berbagai keganjilan dalam kasus penyiraman air keras yang dialaminya. Namun keganjilan itu hanya akan disampaikan bila sudah ada tim gabungan pencari fakta.

Dahnil mengatakan, Novel sangat menantikan Presiden Joko Widodo membentuk tim gabungan tersebut, karena rencana itu masih berupa wacana meski telah 106 hari pasca-penganiayaan yang dialami Novel.

"Isi orang-orang di TGPF itu tentu adalah mereka-mereka yang independen, mereka-mereka yang kredibilitasnya bisa dipercaya. Sejak awal Pak Presiden sudah mengatakan bahwa beliau akan memimpin upaya pemberantasan korupsi. Tentu kami semuanya, termasuk Novel, dan Novel kemarin sudah tegas menyatakan, 'Kalau ada TGPF, saya akan ngomong semuanya, secara terang benderang'," kata Dahnil di Kantor PP Muhammadiyah.

Dahnil mengatakan, Novel mulai meragukan keseriusan penyidik kepolisian untuk mengungkap kasusnya. Hal itu disebabkan polisi belum mendapat temuan signifikan, apalagi pelaku atau aktor di balik penyerangan Novel. Dia berkata, Novel juga menyayangkan sikap Komnas HAM yang tak serius membentuk tim gabungan tersebut, serta  meminta Jokowi segera merealisasikannya.

Menurut Dahnil, semangat Novel untuk memberantas korupsi semakin besar pasca-penyerangan yang dialaminya. Sehingga, kesaksian Novel saat disiram air keras itu akan disampaikan hanya kepada tim gabungan yang independen.

Novel pun menyatakan bersedia mengisahkan berbagai teror dan percobaan penyerangan yang dialaminya sebelum kejadian penyiraman air keras, hanya kepada tim gabungan.

Baca juga:


Desakan KPK

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendesak kepolisian lebih cepat mengungkap pelaku dan dalang penyerangan penyidik senior Novel Baswedan.

Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, sudah lebih dari 100 hari belum ada titik terang pengungkapan kasus penyerangan tersebut. Bahkan, kata Febri, kepolisian selalu beralasan mengalami kesulitan karena bukti yang terbatas dalam mengungkap perkara tersebut.

"Seratus hari yang sudah lewat itu tentu membuat kita semua semakin berharap seharusnya tidak lebih lama lagi kemudian pelakunya bisa diproses. Informasi yang ada masih terbatas yang disampaikan, termasuk bukti-bukti yang disebut terbatas. Kita harap ada temuan-temuan baru yang mungkin nanti bisa di-share ke publik terkait hal ini," jelas Juru bicara KPK Febri Diansyah kepada KBR, Minggu (23/7/2017).

Juru bicara KPK Febri Diansyah menambahkan lembaganya hanya bisa melakukan koordinasi dengan tim kepolisian yang mengungkap kasus Novel. Meskipun, Kepolisian sudah mengajak penyidik KPK untuk masuk ke dalam tim yang dibentuk khusus tersebut. Febri mengatakan KPK tidak bisa berbuat banyak karena terbentur aturan yang mengatur penyidik KPK hanya bekerja pada kasus korupsi.

"Kita menyambut baik tawaran dari Mabes Polri untuk membentuk tim bersama. Namun kami sampaikan bahwa kami akan melihat kewenangan KPK. Karena ketika KPK membentuk tim misalnya, dan itu tidak sesuai dengan kewenangan KPK dalam pengungkapan kasus korupsi. Ada konsekuensi-konsekuensi lain yang perlu diperhitungkan. Sehingga yang kita lakukan memang koordinasi dengan intensif, penanganan dan pengungkapan kasus ada di tangan Polri," tambahnya.

Terkait perkembangan kesehatan Novel, Febri menjelaskan, Novel akan menjalani operasi pada jaringan mata yang sudah tidak tumbuh pada  Agustus nanti. Kata dia, proses itu masih dalam tahap observasi dan menunggu kesiapan dari Novel sendiri.

"Operasi besar di mata kiri akan dilakukan, kalau dilihat di beberapa foto yang beredar tersebut bagian putih itu adalah bagian yang mati. Kata dokter, itu bagian yang tidak bisa tumbuh lagi. Itu akan dilakukan operasi besar. Tentunya tergantung dokter, direncanakan sejauh ini rangenya sekitar Agustus," ujarnya.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR