Angka Perburuan Tinggi, Burung Nuri dan Kakatua di Indonesia Terancam Punah

""Jawa Timur menjadi salah satu pasar potensial perdagangan burung nuri dan kakatua," kata Ketua Pro Fauna Indonesia Rosek Nursahid.

Rabu, 12 Jul 2017 21:35 WIB

Ilustrasi. Polda Sumatera Selatan menggagalkan perdagangan ilegal satwa langka berupa burung nuri kepala hitam (Lorius lory) melalui media sosial di Palembang, Selasa (21/2/2017). (Foto: ANTARA/Feny Selly)

KBR, Banyuwang - Organisasi perlindungan satwa liar Pro Fauna Indonesia (PFI) memperingatkan ancaman punahnya dua spesies burung di Indonesia, yaitu burung nuri dan kakatua.

Ketua Pro Fauna Indonesia Rosek Nursahid mengatakan berdasarkan investigasi yang dilakukan PFI angka penangkapan burung nuri dan kakatua di alam sangat tinggi. Rosek mengatakan sejak November 2016 hingga Januari 2017 atau dalam hitungan tiga bulan ada sedikitnya tiga ribu kasus penangkapan burung nuri di alam.

Maraknya perburuan burung nuri dan kakata itu, kata Rosek, tidak hanya mengancam keberlangsungan dua spesies itu tapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem alam. Jika nuri dan kakatua punah, maka akan meningkatkan populasi spesies pengganggu yang selama ini menjadi makanan dua jenis burung itu.

"Jawa Timur menjadi salah satu pasar potensial perdagangan burung nuri dan kakatua. Jadi ini faktor utama kenapa burung ini menjadi semakin teracam punah keberadaanya di alam, karena yang dijual itu hasil tangkapan dari alam," kata Rosek Nurhadi di Banyuwangi, Rabu (12/7/2017).

Ketua PFI Rosek Nursahid mengatakan wilayah Jawa Timur terutama kota Surabaya menjadi salah satu tempat persinggahan satwa yang akan diperdagangan di beberapa daerah di Pulau Jawa dan luar negeri.

Terkait ancaman punahnya dua jenis burung itu, lembaga perlindungan satwa Pro Fauna Indonesia mendesak pemerintah meningkatkan upaya perlindungan satwa liar terutama melalui undang-undang.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1