Agustus, Unit Kerja Presiden Luncurkan Model Pembelajaran Pancasila Gaya Baru

"Jadi kami ini membentuk semacam template pembelajaran Pancasila. Dari situ akan kami upload ke Youtube. Dengan begitu kampus-kampus lain bisa meniru," kata Yudi Latief.

Rabu, 19 Jul 2017 19:47 WIB

Ketua Unit Kerja Presiden bidang Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latief. (Foto: setkab.go.id/Publik Domain)

KBR, Jakarta - Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) bakal meluncurkan model pembelajaran Pancasila gaya baru untuk perguruan tinggi.

Kepala UKP Yudi Latief mengatakan program ini akan digelar pada pekan orientasi mahasiswa baru dengan mengundang sekitar 600 perwakilan mahasiswa ke Istana Bogor. Rencananya, kata Yudi, Presiden Joko Widodo akan membuka acara ini.

"Diawali dengan nonton film yang berkaitan dengan Pancasila, pada malam hari. Berikutnya Presiden akan membuka acara, tetapi dengan memainkan peran sebagai instruktur, juga dengan memberikan games, simulasi. Setelah itu baru mengikuti proses-proses pembelajaran Pancasila gaya baru," kata Yudi usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (19/7/2017).

Dalam model pembelajaran Pancasila gaya baru tersebut, kata Yudi Latief, terdapat kegiatan dinamika kelompok, simulasi permainan, bermain peran dan sebagainya.

Yudi menambahkan program ini nantinya akan dijadikan model pembelajaran Pancasila yang bisa dipakai di kampus-kampus di Indonesia. UKP menggandeng Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) sebagai pihak yang memiliki otoritas.

"Jadi kami ini membentuk semacam template pembelajaran Pancasila. Dari situ akan kami upload ke Youtube. Dengan begitu kampus-kampus lain bisa meniru," tambah Yudi.

Menjelang peringatan hari kemerdekaan, UKP juga bakal menggelar Festival Prestasi Indonesia. Dalam festival ini akan dipampangkan 72 ikon kebanggaan Indonesia dari berbagai bidang.

"Kami berharap mereka itu nanti bisa menjadi brand ambassador Pancasila dalam kehidupan sehari-hari yang membanggakan kita semua," kata doktor lulusan Australian National University (ANU) ini.

Menurut Yudi, festival itu bertujuan untuk membangkitkan rasa kebanggaan nasional. Masyarakat, kata Yudi, butuh diberikan harapan dan optimisme tentang masa depan bangsa.

"Bangsa yang kehilangan kebanggaan nasional itu saling tidak percaya. Saling eker-ekeran mempertentangkan hal yang remeh temeh. Gelap itu hanya bisa dilawan dengan cahaya. Dengan cara menampilkan capaian-capaian terbaik bangsa ini," ujar Yudi.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

PPATK Telusuri Rekening First Travel

  • Buruh PT Nyonya Meneer Ajukan Tagihan Rp98 Miliar
  • Pesawat Pengangkut Haji Arab Saudi Belum Boleh Mendarat di Qatar

Impor barang dari luar negeri selalu diawasi dan memiliki ketentuan, jangan sampai Anda menjadi orang yang tidak tahu ketentuan yang dimiliki Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe C Soekarno Hatta